Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Indonesia Anggito Abimanyu membagikan besarnya peran sektor keuangan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,4% pada tahun 2026.
Menurut Anggito pertumbuhan ekonomi 5,4% memerlukan investasi tumbuh mencapai 5-6%. Yang menarik, menurut data LPS, Anggito menuturkan pada tahun 2014, Indonesia pernah mencetak rasio investasi hingga 45% terhadap PDB.
Kinerja ini diraih di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tepatnya saat Chairman CT Corp Chairul Tanjung menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
"Mungkin kalau Pak CT balik ke pemerintah, balik lagi (investasinya). PasSBY dari 16% naik jadi 35%. Pas Pak CT turun, turun lagi," katanya seraya bergurau, dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Saat ini, jika dibandingkan dengan peers countries, negara yang memiliki rasio investasi yang tinggi, yakni India, Vietnam dan China. Namun, dia melihat Incremental Capital Output Ratio atau ICOR masih menjadi tantangan Indonesia. ICOR Indonesia mencapai 6,3%, sementara negara peers countries rerata hanya 4%.
"Jadi 1% pertumbuhan ekonomi perlu tambahan investasi 6,3%. Ini masih terlalu tinggi," ujar Anggito.
Dikutip dari BPS, ICOR adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menambah atau menaikkan satu unit output produksi ekonomi.
Selain itu, Anggito menerangkan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi. Pertumbuhan sektor manufaktur di Tanah Air hanya 5,3% tahun lalu. Sementara untuk tumbuh 5,4%, dia menuturkan manufaktur Indonesia perlu mencetak pertumbuhan hingga 7-10% terhadap ekonomi.
"Kontribusinya masih 19% harusnya 20-25%. Selanjutnya, kita akan alami deindustrialisasi...Jadi kalau kita mau tumbuh 5,4% rasio manufakturingnya harus naik," tegasnya.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































