- Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, bursa saham melemah sementara rupiah menguat
- Wall Street ambruk karena investor khawatir mengenai perang
- Perkembangan perang hingga keputusan BI akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia lagi-lagi berakhir beragam kemarin. Bursa saham melemah sementara rupiah menguat.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai sentiment pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Selasa (21/4/2026) ditutup di posisi 7.559,38, turun 0,46% atau -34,73 poin. Nilai transaksi mencapai Rp 17,8 triliun, melibatkan 41,14 miliar saham dalam 2,68 juta kali transaksi. Investor asing masih melanjutkan tren positif dengan mencatat net buy sebesar Rp 473,93 miliar. Mengutip Refinitiv, mayoritas sektor sebenarnya berada di zona hijau kemarin. Akan tetapi koreksi tajam di tiga saham membuat IHSG tidak mampu menembus zona hijau. Terpantau Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Barito Renewables Energy (BREN) ambruk seiring dengan kemungkinan didepak dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). DSSA turun hingga menyentuh batas auto reject bawah(ARB) atau 14,98% ke level 2.780 dan menyeret IHSG turun sebanyak -43,21 poin. Kemudian BREN yang turun 9,47% berkontribusi -23,06 poin. Sebagaimana diberitakan sebelumnya MSCI menegaskan bahwa saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) berpotensi dikeluarkan dari indeks, mengikuti kebijakan global yang berlaku. Dalam konteks tersebut, BREN dan DSSA termasuk dalam daftar 9 saham HSC yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodia Sentral Efek Indonesia (KSEI). Tercatat, BBRI juga masuk dalam daftar top laggards. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyeret IHSG sebesar 26,66 poin. Emiten bank jumbo ini koreksi 4,94% seiring dengan memasuki periode ex dividend kemarin. IHSG diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif seiring dengan pasar yang merespon pengumuman terbaru dari MSCI. MSCI telah mengumumkan pembaruan terkait evaluasi free float sekuritas Indonesia per 20 April 2026, sebagai tindak lanjut dari kebijakan pembekuan rebalancing indeks yang telah disampaikan sebelumnya pada Januari 2026. Dalam pernyataannya, MSCI menyoroti adanya kebijakan reformasi transparansi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan KSEI.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG konsisten berada di zona merah dengan level terendah di 7.511,83 dan tertinggi 7.568,99. Sebanyak 386 saham naik, 264 turun, dan 168 tidak bergerak.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (21/4/2026).
Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan sore ini di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,15% ke level Rp17.140/US$. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Senin (20/4/2026), juga berhasil menguat 0,09% di level Rp17.165/US$. Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah memang sudah bergerak positif sejak pembukaan. Pada awal sesi, rupiah tercatat terapresiasi 0,23% ke level Rp17.125/US$, bahkan sempat menyentuh Rp17.100/US$ sebelum akhirnya sebagian penguatannya tergerus hingga penutupan perdagangan.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,05% ke level 98,145.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih bertahan di 6,583% untuk lima hari beruntun.
source on Google

10 hours ago
4
















































