Bejibun Sentimen Guyur Pasar Pekan Depan: BI Rilis Utang-NPI dan Data AS

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

17 February 2026 19:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan domestik memasuki pekan yang sarat agenda bank sentral. Dari dalam negeri, fokus tertuju pada rilis statistik utang luar negeri dan Neraca Pembayaran Indonesia. Dari luar, Amerika Serikat membanjiri pasar dengan data perumahan, notulen bank sentral, hingga inflasi pilihan The Fed. Volatilitas berpeluang naik.

BI Umumkan Posisi ULN Desember 2025

Senin (18/2/2026), Bank Indonesia dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Desember 2025. Data ini akan menjadi penutup tren akhir tahun setelah posisi November tercatat US$ 423,8 miliar, turun dari US$ 424,9 miliar pada Oktober.

Secara tahunan, pertumbuhan ULN November melambat ke 0,2% (yoy). Penurunan terutama datang dari ULN pemerintah yang menyusut menjadi US$ 209,8 miliar. Rasio ULN terhadap PDB turun tipis ke 29,3%. Pasar akan mencermati apakah tren perlambatan berlanjut di Desember, terutama di tengah fluktuasi kepemilikan SBN dan arus modal global menjelang tutup tahun.

Pergerakan ULN relevan bagi rupiah dan pasar obligasi. Jika rasio utang kembali turun dan struktur jangka panjang tetap dominan, sentimen bisa lebih stabil. Namun tekanan eksternal yang masih tinggi membuat angka ini sensitif.

Neraca Pembayaran & RDG BI

Kamis (20/2/2026), BI merilis Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Triwulan IV-2025. Data ini akan memberi gambaran posisi transaksi berjalan dan arus modal pada akhir tahun. Investor akan membaca apakah surplus/defisit transaksi berjalan melebar serta bagaimana posisi cadangan devisa menopang stabilitas eksternal.

Data AS Padat, FOMC Minutes Jadi Sorotan

Dari Amerika Serikat, pekan ini padat. Rabu (18/2/2026), data perumahan seperti building permits dan housing starts akan dirilis. Sebelumnya, durable goods orders tercatat melonjak 5,3% setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. Angka-angka ini menjadi indikator daya tahan sektor riil.

Kamis dini hari (19/2/2026), pasar menanti risalah rapat Federal Reserve atau FOMC Minutes. Investor akan membedah pandangan pejabat bank sentral terkait arah suku bunga, terutama setelah inflasi mulai melandai namun pertumbuhan ekonomi masih solid.

Jumat (20/2/2026), data inti inflasi pilihan The Fed, Core PCE Price Index, diproyeksi naik 0,2% (mom), sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya. Pada hari yang sama, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 versi advance diperkirakan 3,5% (qoq), di bawah realisasi sebelumnya 4,4%. Data pendapatan dan belanja masyarakat juga keluar bersamaan.

Kombinasi inflasi dan pertumbuhan akan mempengaruhi ekspektasi penurunan suku bunga global. Jika ekonomi AS tetap panas, imbal hasil US Treasury berpotensi naik dan memberi tekanan ke emerging markets.

Dengan rangkaian agenda ini, pasar domestik menghadapi dua arah tekanan. Dari dalam negeri, investor menilai kesehatan eksternal melalui ULN dan NPI. Dari luar, arah dolar AS dan yield obligasi akan ditentukan oleh notulen The Fed serta data inflasi.

Rupiah, IHSG, dan SBN berpeluang bergerak lebih aktif dibanding pekan sebelumnya. Pelaku pasar akan bersikap selektif sembari menunggu kepastian sinyal kebijakan moneter global.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |