Jakarta, CNBC Indonesia - Pawai Hari Israel tahunan di New York tahun ini menyoroti semakin lebarnya perbedaan sikap di tubuh Partai Demokrat terkait Israel dan Palestina. Di tengah kehadiran sejumlah tokoh senior Demokrat, Wali Kota New York Zohran Mamdani memilih absen, menepati janjinya selama kampanye untuk tidak menghadiri acara tersebut karena penolakannya terhadap kebijakan pemerintah Israel.
"Saya mengatakan selama kampanye bahwa saya tidak akan menghadiri pawai, dan saya telah menjelaskan pandangan saya tentang pemerintah Israel dengan sangat jelas," kata Mamdani kepada wartawan pekan lalu.
Meski tidak hadir, ia menegaskan keamanan publik tetap menjadi prioritas dan memastikan pengerahan aparat kepolisian dalam jumlah besar selama acara berlangsung.
Keputusan Mamdani diyakini menjadikannya wali kota pertama New York yang tidak menghadiri parade tersebut sejak pertama kali digelar pada 1964. Sejumlah tokoh progresif lain juga memilih tidak hadir, termasuk Brad Lander, politikus Yahudi dan mantan pengawas keuangan New York yang kini maju sebagai calon anggota Kongres, serta kelompok Israelis for Peace dan Jews for Racial and Economic Justice (JFREJ).
JFREJ menyambut keputusan tersebut. Dalam unggahan di media sosial X, kelompok itu menyatakan parade yang menghadirkan politisi Israel pendukung operasi militer di Gaza tidak dapat dianggap sebagai perayaan identitas atau kebanggaan Yahudi semata. Mereka mengaku bersyukur Mamdani tidak ikut berpartisipasi.
Sikap Mamdani berbanding terbalik dengan Komisaris Polisi New York Jessica Tisch yang hadir dalam pawai. "Ini adalah keputusan wali kota untuk tidak ikut berbaris, dan ini adalah keputusan saya untuk berbaris dengan bangga," ujarnya.
Sejumlah tokoh Demokrat lainnya juga turut hadir, termasuk Senator Chuck Schumer, Gubernur New York Kathy Hochul, Jaksa Agung Letitia James, mantan Wali Kota Eric Adams dan Michael Bloomberg, serta mantan Gubernur Andrew Cuomo.
Ketidakhadiran Mamdani memicu kritik dari kelompok pro-Israel. Kepala Eksekutif Anti-Defamation League (ADL), Jonathan Greenblatt, menyebut keputusan tersebut sebagai "pernyataan ideologis yang memalukan". Sementara harian New York Post menampilkan foto Mamdani sedang bersepeda di halaman depan dengan judul yang menyindir keputusannya melewatkan parade.
Di sisi lain, para pendukung wali kota menyoroti kehadiran Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dalam parade tersebut. Smotrich dikenal sebagai figur utama kubu nasionalis sayap kanan Israel dan kerap menuai kontroversi karena pernyataannya terkait wilayah Palestina yang diduduki. Kehadirannya dalam acara itu membuat sejumlah politisi Demokrat berada dalam posisi sulit.
Ben Rhodes, mantan Wakil Penasihat Keamanan Nasional era Presiden Barack Obama, mempertanyakan standar ganda yang diterapkan terhadap Mamdani.
"Mengapa kontroversial bagi Zohran untuk tidak ikut parade karena prinsip-prinsipnya, tetapi tidak bagi politisi Demokrat untuk berbaris bersama seorang fanatik fasis seperti Smotrich?" tulisnya di X.
Tekanan tersebut mendorong sejumlah pejabat Demokrat mengambil jarak dari Smotrich. Kathy Hochul menyebutnya sebagai "ekstremis sayap kanan" yang retorika kebenciannya bertentangan dengan nilai-nilai New York. Letitia James juga mengecam pernyataan Smotrich dan menegaskan bahwa Islamofobia tidak memiliki tempat di kota tersebut.
Perdebatan ini muncul hanya beberapa pekan setelah Balai Kota New York merilis video peringatan Nakba, istilah yang digunakan warga Palestina untuk menggambarkan pengusiran sekitar 700.000 orang selama perang 1948 yang mengiringi berdirinya Israel. Video itu memuat kisah Inea Bushnaq yang mengenang pengalaman meninggalkan rumahnya saat masih berusia sembilan tahun.
Kelompok pendukung Israel menilai video tersebut hanya menyajikan satu sisi sejarah dan mengabaikan pengalaman pengungsi Yahudi serta konteks konflik yang lebih luas. Kontroversi itu semakin memperlihatkan perubahan lanskap politik di New York, kota dengan populasi Yahudi terbesar di Amerika Serikat.
Perubahan sikap publik terhadap Israel juga terlihat dalam berbagai survei dalam beberapa tahun terakhir, terutama di tengah meningkatnya kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza. Mamdani menjadi salah satu figur politik paling menonjol yang merepresentasikan pergeseran tersebut.
Meski dikenal sangat pro-Palestina, ia menegaskan tetap mendukung hak Israel untuk eksis sebagai negara yang menjamin kesetaraan hak bagi seluruh warganya. Ia bahkan berjanji akan mematuhi surat perintah Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), termasuk menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu jika berkunjung ke New York dan terdapat dasar hukum yang mengharuskannya.
(tfa/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
2
















































