Wakaf Utsman bin Affan, Contoh Investasi Sosial Jangka Panjang

3 hours ago 5

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

19 February 2026 15:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sejarah Islam, Utsman bin Affan dikenal bukan hanya sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW dan khalifah ketiga, tetapi juga seorang pebisnis sukses yang meninggalkan warisan ekonomi berjangka panjang.

Pada masa awal Islam di Madinah, masyarakat sempat mengalami krisis air bersih. Saat itu hanya ada satu sumur utama, Sumur Raumah, milik seorang pedagang yahudi yang menjual air dengan harga tinggi. Kondisi tersebut mendorong Utsman untuk turun tangan membeli sumur tersebut.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلُهَا لِلْمُسْلِمِينَ يَشْرَبُونَ مِنْهَا وَلَهُ بِهَا مَشْرَبٌ فِي الْجَنَّةِ

"Barang siapa membeli sumur Raumah, lalu ia jadikan untuk kaum muslimin, maka ia akan mendapatkan minuman di surga."

Negosiasi Bisnis hingga Wakaf Sosial

Awalnya Utsman berniat untuk membeli sumur tersebut, namun si pemilik menolak menjual aset tersebut yang menjadi sumber penghasilan utamanya. Utsman kemudian menawarkan skema pembelian setengah kepemilikan dengan sistem penggunaan bergantian. Ada hari di mana sumur itu milik Utsman, dan ada hari di mana sumur itu milik si pedagang yahudi.

Pada hari kepemilikannya, Utsman membebaskan masyarakat mengambil air secara gratis. Hal ini membuat masyarakat Madinah menunggu hari Utsman dan mengabaikan hari ketika sumur tersebut milik si pedagang yahudi.

Strategi tersebut berdampak pada turunnya permintaan air dari pemilik awal. Akhirnya sisa kepemilikan sumur dijual sepenuhnya kepada Utsman, yang kemudian mewakafkannya untuk kepentingan publik sehingga dapat dimanfaatkan siapa pun tanpa biaya.

Berkembang Jadi Aset Ekonomi Produktif

Seiring waktu, air sumur tersebut menyuburkan tanah disekitarnya hingga berkembang menjadi kebun kurma produktif. Kurma hasil panennya turut diberikan untuk amal atas nama Usman bin Affan (RA). Hal ini berlanjut pada masa pemerintahan Abbasiyah dan seterusnya.

Dalam pengelolaan modern Arab Saudi, hasil panen dilaporkan sebagian disalurkan untuk kegiatan amal, terutama untuk para janda dan yatim piatu, sementara sebagian lainnya disimpan dalam bentuk dana investasi atas nama Utsman bin Affan.

Beberapa laporan juga menyebut dana tersebut kemudian digunakan untuk kegiatan sosial, bantuan umat, serta pemeliharaan aset wakaf.

Inspirasi Ekonomi Syariah Modern

Dalam perjalanan kepemilikan sumur tersebut, Utsman bin Affan disebut kerap menerima tawaran dengan nilai tinggi dari pihak-pihak yang ingin menguasai aset itu. Namun seluruh tawaran tersebut ditolaknya. Utsman beralasan, ia telah mendapatkan penawaran dengan nilai yang jauh lebih besar. Menurutnya, penawaran tertinggi itu datang dari Allah SWT.

Sebagai seorang pedagang sukses, Utsman tidak sekadar bertransaksi dengan manusia, tetapi memposisikan aktivitas bisnisnya sebagai bentuk "perdagangan" dengan Tuhannya. Ia meyakini bahwa keberkahan harta tidak selalu tunduk pada logika keuntungan semata, melainkan melampaui perhitungan ekonomi konvensional.

Kisah Utsman bin Affan menunjukkan bahwa integrasi antara bisnis, investasi sosial, dan keberlanjutan ekonomi bukanlah konsep baru. Praktik tersebut telah hadir sejak awal peradaban Islam, dengan dampak yang bahkan masih dapat dirasakan hingga hari ini.

(dag/dag)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |