Jakarta, CNBC Indonesia - Ramainya pengunjung job fair yang digelar di Jakarta Selatan menjadi gambaran ketatnya persaingan mencari pekerjaan saat ini. Di tengah banyaknya perusahaan yang membuka lowongan, para pencari kerja mengaku tetap harus bersaing dengan ribuan pelamar lain, mulai dari lulusan baru hingga pekerja berpengalaman yang kembali mencari pekerjaan setelah kontraknya berakhir atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Salah satu pencari kerja, Husen (29), mengaku datang ke job fair bersama temannya untuk mencari peluang kerja di sektor ritel maupun food and beverage (F&B). Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma itu sebelumnya bekerja di Imperial dan terakhir di Timezone hingga kontraknya selesai pada bulan lalu.
"Habis kontrak bulan kemarin. Sekarang kalau enggak retail, F&B lah. Pengennya sih coba bidang lain juga biar ada tantangannya. Tapi sekarang nyari kerja lebih sulit, lebih banyak juga yang enggak kerja, jadi kita harus lebih semangat lagi dapetinnya," ujar Husen.
Menurut Husen, tantangan pencari kerja saat ini tidak hanya datang dari banyaknya pelamar, tetapi juga persoalan batas usia yang masih diterapkan sebagian perusahaan. Ia menilai pelamar yang memiliki pengalaman justru sering terkendala syarat usia, sementara pelamar yang lebih muda belum tentu memiliki pengalaman kerja yang cukup.
Pemerintah kembali menggelar bursa kerja Jakarta Selatan Career Fest & Bazaar 2026 untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang sedang membuka lowongan. Job fair secara luring digelar pada 7-8 Juli 2026 di Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta, Selasa (7/7/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Pemerintah kembali menggelar bursa kerja Jakarta Selatan Career Fest & Bazaar 2026 untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang sedang membuka lowongan. Job fair secara luring digelar pada 7-8 Juli 2026 di Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta, Selasa (7/7/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
"Kalau dulu zaman saya lebih gampang. Sekarang yang umur muda pengalamannya belum ada, sedangkan yang umur 30 sampai 35 tahun pengalamannya lebih banyak tapi mentok di umur. Padahal yang sudah berpengalaman lebih ngerti kondisi di lapangan," katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan Aina Farha (24), lulusan S1 Ilmu Hukum Universitas Esa Unggul. Sejak lulus pada 2023, ia lebih banyak mengerjakan proyek freelance sebagai editor video dan penulis naskah sambil terus mencari pekerjaan penuh waktu. Meski terbuka untuk berbagai posisi, mulai dari administrasi, sales, HR hingga bidang hukum, ia mengaku proses mencari pekerjaan belum membuahkan hasil.
"Kesulitannya di pengalaman. Kebanyakan perusahaan butuh pengalaman, sedangkan saya belum punya pengalaman kerja yang sesuai, jadi belum dikasih kesempatan. Makanya sekarang saya sambil upgrade skill, ikut pelatihan, seminar, apa saja yang bisa menambah kemampuan," ujar Aina.
Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari persaingan dengan pencari kerja yang sudah memiliki pengalaman sehingga peluang bagi lulusan baru semakin sempit. Ia pun rutin mengikuti job fair, baik di Bogor maupun Jakarta, sebagai salah satu cara memperluas kesempatan mendapat pekerjaan.
Selain itu, ia juga memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kemampuan melalui pelatihan dan seminar agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
"Lebih sulitnya bersaing sama yang udah berpengalaman. Makanya sekarang harus lebih giat cari kerja sambil upgrade skill juga. Kalau ada pelatihan ikut pelatihan, seminar-seminar juga saya ikut supaya ada bekal lebih saat melamar kerja," ujar Aina.
(fys/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































