Jakarta, CNBC Indonesia - Perayaan Tahun Baru Imlek hari ini kembali mewarnai berbagai wilayah di dunia. Di Indonesia, imlek ditandai dengan maraknya perayaan barongsai, keberadaan lampion dan berbagai tradisi lainnya.
Jejak budaya China yang kini menjadi bagian dari keberagaman Indonesia itu tidak lahir secara tiba-tiba. Dia berakar dari eksodus besar-besaran penduduk China ke Asia Tenggara yang berlangsung sejak ratusan tahun lalu untuk mencari kerja dan mendapatkan uang.
Ini setidaknya tercatat oleh sejarawan Leo Suryadinata dalam bukunya Negara dan Etnis Tionghoa (2002). Pada awalnya jumlah orang Tionghoa di Asia Tenggara tidaklah besar.
Arus migrasi masif baru terjadi ketika China dilanda krisis sosial, ekonomi, dan politik yang berkepanjangan. Sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20, banyak wilayah di China, khususnya bagian selatan, mengalami tekanan hidup ekstrem, mulai dari Kepadatan penduduk tinggi, lahan pertanian terbatas, kemiskinan meluas, dan konflik politik terus terjadi.
Akibatnya, hidup menjadi semakin sulit, sementara ruang untuk bertahan semakin sempit. Provinsi seperti Fujian dan Guangdong, yang kemudian menjadi daerah asal mayoritas perantau, mengalami persaingan hidup yang keras. Dalam situasi ini, merantau ke luar negeri menjadi kebutuhan.
Asia Tenggara, termasuk wilayah Indonesia (dulu Nusantara), sejak lama dipandang sebagai "tanah harapan". Kawasan ini dikenal sebagai pusat perdagangan regional dengan jalur pelayaran strategis dan pelabuhan-pelabuhan sibuk. Komoditas seperti rempah-rempah, hasil hutan, dan produk tropis menjadi magnet ekonomi yang kuat.
Daya tarik itu semakin menguat ketika kolonialisme Eropa menguasai Nusantara. Pemerintah kolonial membuka perkebunan, pertambangan, serta pusat-pusat ekonomi baru yang membutuhkan tenaga kerja dan pelaku usaha. Kondisi inilah yang mendorong orang-orang China datang ke wilayah ini untuk mencari penghidupan.
"Lowongan kerja dan kesempatan baru ini menarik etnis Tionghoa ke daerah yang dulu dikenal sebagai Nanyang. Nanyang adalah istilah yang berarti Samudra Selatan atau sebutan bagi Asia Tenggara pada masa lalu," tulis Leo Suryadinata.
Para perantau itu kemudian mengisi berbagai sektor ekonomi, seperti perdagangan, distribusi barang, jasa, kerajinan, hingga usaha kecil di kota-kota kolonial. Tujuannya bertahan hidup dengan bekerja dan mendapatkan uang. Pada awalnya, banyak yang berniat pulang ke China setelah mengumpulkan modal. Namun seiring waktu, realitas berubah. Banyak yang akhirnya menetap, menikah dengan penduduk lokal, dan membangun keluarga di Indonesia.
Dari proses panjang inilah lahir komunitas China peranakan atau kelompok yang berbaur dengan budaya lokal dan menjadikan Indonesia sebagai tanah air. Dari sini pula terbentuk jejak kebudayaan yang hingga kini masih hidup dan menjadi bagian dari wajah sosial Indonesia.
Namun, dinamika itu kemudian berubah di bawah struktur kolonial. Pemerintah kolonial memisahkan masyarakat berdasarkan kategori rasial. Orang China ditempatkan sebagai kelompok tersendiri yang melahirkan jarak sosial dan stigma yang dampaknya panjang. Bahkan terasa hingga Indonesia merdeka.
(mfa/sef)

2 hours ago
3

















































