Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/2/2026), seiring pelemahan dolar di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menguat 0,39% ke posisi Rp16.795/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan tren rupiah yang sebelumnya melemah dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan, rupiah sejatinya sudah dibuka menguat tipis 0,03% di level Rp16.855/US$ sebelum terus menguat hingga penutupan. Rupiah bergerak dalam rentang Rp16.794-Rp16.870 per US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau berada di zona merah dengan koreksi 0,25% ke level 97,388. Pelemahan ini melanjutkan penurunan pada penutupan perdagangan sebelumnya, ketika DXY turun 0,20%.
Penguatan rupiah pada awal pekan ini ditopang sentimen eksternal seiring melemahnya dolar AS di pasar global. Tekanan pada dolar tercermin dari pergerakan DXY yang melemah, mengindikasikan pelaku pasar melakukan aksi jual pada aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang lain, termasuk rupiah.
Dolar melemah jelang rangkaian rilis data penting ekonomi AS, mulai dari penjualan ritel, inflasi, hingga laporan tenaga kerja yang sebelumnya tertunda dan dijadwalkan keluar pada Rabu mendatang.
Di sisi lain, pasar juga mulai menambah taruhan pelonggaran kebijakan dari The Federal Reserve tahun ini. Kontrak Fed funds futures kini mencerminkan probabilitas 19,9% untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed 17-18 Maret, naik dari 18,4% pada Jumat, mengacu pada CME Group FedWatch Tool.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) merilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang kembali naik ke level 127, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan ini mencerminkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang membaik serta prospek ke depan yang semakin optimistis.
BI menyebut peningkatan keyakinan konsumen bersumber dari persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan, yang sama-sama berada di level optimistis dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, BI juga baru saja melantik Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono pada Senin (9/2/2026) di hadapan Ketua Mahkamah Agung Sunarto, berdasarkan surat Presiden Prabowo Subianto, untuk masa jabatan 2026-2031.
Thomas menyatakan kesiapan menjalankan amanah tersebut, seraya menegaskan komitmennya memperkuat kredibilitas kebijakan dan stabilitas, termasuk melalui strategi tematik "GERAK" yang menitikberatkan pada tata kelola kredibel, efektivitas kebijakan, resiliensi sistem keuangan, sinergi fiskal-moneter, serta keberlanjutan transformasi keuangan.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































