Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, sekaligus mengawali pekan di zona merah.
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (31/8/2026), rupiah terdepresiasi 0,23% ke posisi Rp17.725/US$.
Pelemahan tersebut sekaligus membalikkan penguatan pada Jumat (28/8/2026), ketika rupiah ditutup terapresiasi 0,17% ke level Rp17.685/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau terkoreksi 0,08% ke posisi 99,624.
Koreksi pagi ini terjadi setelah DXY melonjak 0,55% pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu.
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari lonjakan dolar AS pada perdagangan sebelumnya. Greenback menguat tajam setelah Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak bergerak kembali menuju target 2%.
Dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026), Warsh mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila tekanan inflasi tidak kunjung mereda. Pernyataan tersebut menjadi sinyal terkuat darinya bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk mengendalikan harga.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan September langsung melonjak menjadi 57,5%, dari sekitar 35% sebelum Warsh berpidato, berdasarkan CME FedWatch.
Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut dapat menahan aliran dana menuju negara berkembang dan menambah tekanan terhadap rupiah.
Dolar AS juga menguat hampir 0,9% sepanjang pekan lalu dan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan. DXY bahkan sempat menyentuh 99,727, posisi tertinggi sejak 17 Agustus 2026. Kekuatan dolar yang masih bertahan membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas pada awal pekan.
Dari dalam negeri, pasar turut menantikan Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026) yang akan membahas penetapan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI periode 2026-2031.
Selain Destry, Aida S. Budiman akan ditetapkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI, sedangkan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI.
Kepastian susunan pimpinan baru BI menjadi perhatian karena berkaitan dengan kesinambungan kebijakan moneter dan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
5

















































