Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai setelah terbang delapan hari beruntun. Harga mereda setelah India meningkatkan pasokan.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 152 per ton. Harganya turun 0,65%.
Kenaikan ini memutus reli panjang delapan hari dengan penguatan mencapai 10,5%.
Harga batu bara termal di sejumlah pusat produksi utama China sedikit terkoreksi setelah mengalami kenaikan tajam sejak akhir Agustus.
Sentimen pembeli mulai berubah menjadi wait and see karena harga sudah naik tinggi.
Masalah utamanya sekarang adalah permintaan. Harga memang masih ditopang oleh pasokan domestik yang ketat, tetapi pembeli mulai menahan pembelian karena harga sudah terlalu tinggi. Ini menjadi tanda bahwa reli harga batu bara China mulai kehilangan tenaga.
Hal ini sejalan dengan laporan Sxcoal pada hari yang sama bahwa pergerakan harga batu bara di pelabuhan China juga diperkirakan mulai melambat, meski ketersediaan spot masih ketat dan biaya penggantian pasokan tetap tinggi.
Perlambatan disebabkan melemahnya permintaan.
Survei Mysteel terhadap 493 pembangkit menunjukkan konsumsi batu bara harian rata-rata hanya 4 juta ton pada 28 Agustus-3 September, turun 13% dari puncak musim panas sebesar 4,59 juta ton per hari.
Dengan suhu yang mulai menurun, pembangkit diperkirakan mengurangi pembelian batu bara di pasar spot dan lebih mengandalkan kontrak pasokan.
India Kejar Produksi Batu Bara
India meningkatkan pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) setelah stok di puluhan pembangkit turun ke level kritis. Pada Minggu kemarin (6/9/2026), perusahaan tambang milik negara mengirim 444 rangkaian kereta batu bara untuk sektor kelistrikan.
Sebanyak 58 PLTU memiliki stok di bawah 25% dari kebutuhan, naik dari 45 pembangkit pada awal September. Kondisi ini mendorong Kementerian Batu Bara India memperketat pemantauan dan menyiapkan langkah untuk mengatasi kekurangan pasokan.
Pengiriman batu bara ke sektor listrik meningkat dari 370 rangkaian pada 3 September menjadi 444 rangkaian pada 6 September.
Kondisi ini terjadi ketika defisit listrik India masih tinggi, terutama di wilayah utara dan barat. Defisit mencapai 20,06 juta unit pada Minggu dan sempat menembus 27 juta unit pada 4 September.
Permintaan listrik juga meningkat akibat cuaca panas yang mendorong penggunaan pendingin udara serta meningkatnya penggunaan pompa irigasi di sejumlah wilayah pertanian.
Di sisi lain, produksi batu bara mulai meningkat seiring meredanya hujan di wilayah tambang. Produksi harian rata-rata penambang batu bara milik negara naik sekitar 35% menjadi 1,83 juta ton pada 6 September, dari sekitar 1,36 juta ton pada tiga hari pertama September.
Produksi harian Coal India Limited (CIL) melonjak menjadi 1,83 juta ton per 6 September 2026, dari 1,36 juta ton pada awal September. Kenaikan terjadi setelah hujan monsun mereda di wilayah tambang utama.
Meski produksi mulai pulih, kinerja kumulatif masih tertinggal. Produksi April-Agustus 2026 mencapai 267,5 juta ton, turun 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, pengiriman batu bara naik 6,7% menjadi 322,9 juta ton.
Kesenjangan produksi dan permintaan membuat CIL mengandalkan stok tambang yang kini sekitar 76 juta ton. Investor akan mencermati apakah kenaikan produksi dapat dipertahankan untuk mengisi kembali stok dan menjaga pasokan ke pembangkit listrik.
(mae/mae)

13 hours ago
11

















































