Gunung Anak Krakatau Meletus, Ada 'Penghuni' yang Tak Bisa Kabur

1 hour ago 2

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

08 September 2026 21:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali memutuskan sejak Jumat (4/9/2026).

Erupsi tersebut menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik yang mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan dan kegiatan di sejumlah wilayah sekitar Selat Sunda.

Memang tidak ada permukiman di tubuh Gunung Anak Krakatau. Namun, pulau vulkanik tersebut bukanlah wilayah tanpa kehidupan. Anak Krakatau menjadi rumah bagi berbagai jenis burung, reptil, serangga, mamalia, hingga invertebrata yang membentuk ekosistemnya. Sebagian dari mereka adalah penghuni kepulauan yang tidak bisa meninggalkan atau kabur dari pulau dengan cepat seperti halnya manusia. 

Gunung berapi Gunung Anak Krakatau memuntahkan lahar panas terlihat dari desa Pasauran di Serang, provinsi Banten, Indonesia, 5 September 2026. (REUTERS/Rikardo)Gunung berapi Gunung Anak Krakatau memuntahkan lahar panas terlihat dari desa Pasauran di Serang, provinsi Banten, Indonesia, 5 September 2026. (REUTERS/Rikardo) Foto: Gunung berapi Gunung Anak Krakatau memuntahkan lahar panas terlihat dari desa Pasauran di Serang, provinsi Banten, Indonesia, 5 September 2026. (REUTERS/Rikardo)

Hewan-Hewan Penghuni Krakatau

Meski berada di tengah laut dan terus mengalami aktivitas vulkanik, kawasan Krakatau tetap menjadi rumah bagi beragam satwa.

Berdasarkan catatan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Lampung, fauna di kompleks Krakatau antara lain mencakup tikus, kalong, reptil seperti biawak dan ular, serta sekitar 40 jenis burung, termasuk alap-alap macan, bubut alang-alang, dan burung-madu sriganti. Kawasan ini juga memiliki ratusan jenis flora, mulai dari tumbuhan berbiji, jamur, paku-pakuan, hingga lumut kerak.

Survei biodiversitas oleh peneliti BKSDA Lampung dan Universitas Lampung pada 2013 juga menemukan mamalia, lebih dari 10 spesies burung dari berbagai famili, reptil, serangga, dan invertebrata non-serangga di Anak Krakatau. Kelompok terakhir mencakup spesies laba-laba, kalajengking, dan kelabang.

Catatan ilmiah lain menunjukkan biodiversitas di kawasan Krakatau terus berubah seiring proses suksesi.

Penelitian pada awal 1980-an menemukan 109 spesies fauna di Rakata, Sertung, dan Panjang, terdiri dari 47 jenis burung, 17 reptil, 19 jenis kelelawar, dan enam mamalia darat. Sementara di Anak Krakatau sendiri ketika itu fauna yang tercatat terutama berupa burung dan kupu-kupu.

Yang menarik, fauna di Kepulauan Krakatau diperkirakan kembali secara bertahap setelah vegetasi mulai tumbuh. Burung dan kelelawar termasuk kelompok yang datang lebih awal, sementara hewan lain dapat mencapai pulau dengan berenang, terbawa arus laut, atau bahkan ikut melalui kapal yang singgah.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa Anak Krakatau memiliki ekosistem yang terus berkembang meski berada di kawasan vulkanik aktif. Karena itu, setiap erupsi bukan hanya mengubah bentang alam, tetapi juga menguji kemampuan satwa untuk bertahan, berpindah, atau kembali setelah habitatnya terganggu.

Tidak Semua Hewan Bisa Menyelamatkan Diri

Ketika letusan besar benar-benar terjadi, kemampuan bertahan hidup sangat bergantung pada jenis hewan.

Burung dan hewan bersayap memiliki peluang lebih besar untuk meninggalkan wilayah yang terganggu. Sementara itu, hewan darat dan hewan kecil yang tidak mudah berpindah lebih bergantung pada keberadaan celah batu, tanah, atau bagian habitat yang masih aman.

Letusan Krakatau 1883 menunjukkan betapa besarnya dampak tersebut. Catatan pasca erupsi menyebut banyak kuda dan kerbau ditemukan mati bersama reruntuhan di sepanjang pantai Banten setelah tsunami menerjang kawasan Selat Sunda.

Para ilmuwan bahkan sempat memperdebatkan apakah ada fauna yang benar-benar berhasil bertahan di Pulau Krakatau. Ketika Edmond Cotteau mengunjungi Krakatau pada Mei 1884, sekitar sembilan bulan setelah erupsi, ia hampir tidak menemukan kehidupan hewan. Salah satu temuan yang tercatat justru hanya seekor laba-laba kecil yang sedang membuat jaring.

Biodiversitas Kembali dan Ekosistem Dibangun Ulang

Krakatau tidak selamanya kosong. Seiring berjalannya waktu, berbagai spesies mulai kembali mengkolonisasi pulau dan membentuk ekosistem baru.

Kajian mengenai fauna Krakatau mencatat sekitar 80% hewan yang ditemukan pada periode awal pascaerupsi merupakan fauna bersayap, sehingga kemampuan terbang diperkirakan menjadi salah satu jalur utama masuknya kembali kehidupan.

Laba-laba muda, tungau, dan mikrofauna juga dapat terbawa angin, sementara reptil seperti ular dan buaya diperkirakan mencapai pulau dengan berenang atau terbawa kayu yang mengapung dari Jawa maupun Sumatera.

Proses tersebut berjalan beriringan dengan pulihnya vegetasi. Ketika tumbuhan pionir mulai tumbuh, habitat dan sumber makanan ikut terbentuk.

Serangga kembali mendapat tempat hidup, kemudian menjadi sumber makanan bagi burung, reptil, laba-laba, dan predator lainnya. Burung dan kelelawar juga dapat membantu penyebaran biji, sehingga mempercepat terbentuknya kembali vegetasi.

Hal ini membuat Krakatau menjadi salah satu lokasi penting untuk mempelajari proses suksesi ekologis setelah gangguan besar. Kembalinya tumbuhan dan satwa menunjukkan bagaimana biodiversitas membantu membangun kembali fungsi ekosistem yang sempat rusak.

Dalam konteks sustainability, proses ini menunjukkan pentingnya ketahanan ekosistem. Pemulihan bukan hanya soal kembalinya jumlah spesies, tetapi juga terbentuknya kembali hubungan antarorganisme yang membuat ekosistem mampu berfungsi, beradaptasi, dan bertahan dalam jangka panjang.

(slm/slm)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |