Pertarungan Raja Laut: AS Dulu Mengejek China Kini Dibuat Panas Dingin

6 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - China semakin gencar membangun kekuatan perang di laut. Kebijakan China ini mulai membuat Amerika Serikat (AS) cemas.

Salah satu kekuatan armada China yang paling ditunggu dunia adalah Type 004. Kapal induk ini diyakini bahkan sudah membuat AS sebagai raja laut menjadi gentar sebelum peluncurannya.

Type 004 belum punya jadwal resmi operasi atau pelayaran (sea trials) yang diumumkan public. Hingga kini kapal tersebut masih dalam tahap konstruksi awal di galangan Dalian sejak 2024.

Kapal induk Type 004 menjadi supercarrier China yang bertenaga nuklir. Ini adalah sebuah lompatan besar yang akan menempatkan Beijing dalam klub eksklusif yang saat ini hanya diisi oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan Prancis.

Setelah Type 004 mulai beroperasi, China akan bergabung dengan kelompok kecil negara yang mengoperasikan kapal induk bertenaga nuklir dengan jangkauan hampir tak terbatas, yang hanya dibatasi oleh kebutuhan keberlangsungan hidup kru.

Angkatan Laut Tiongkok, atau People's Liberation Army Navy (PLAN), memiliki jumlah kapal lebih banyak daripada angkatan laut mana pun di dunia.
Pembangunan kapal induknya juga semakin cepat. Selama beberapa dekade terakhir, pembangunan kapal induk China bertujuan memberi Beijing kemampuan proyeksi kekuatan yang kuat di wilayah sekitarnya.

China saat ini memiliki tiga kapal induk utama, yaitu Liaoning yang merupakan kapal induk pertama hasil konversi dari kapal eks-Soviet dan awalnya digunakan untuk pelatihan, Shandong sebagai kapal induk pertama yang sepenuhnya dibangun di dalam negeri, serta Fujian yang menjadi kapal induk paling modern dengan teknologi sistem katapel elektromagnetik untuk peluncuran pesawat.

PLAN mulai beroperasi dengan kapal induk pada 1990-an setelah membeli Varyag, kapal induk eks-Soviet yang belum selesai dan dijual setelah berakhirnya Perang Dingin serta pemangkasan belanja pertahanan.

Setelah renovasi besar-besaran, kapal tersebut mulai beroperasi pada 2012 dengan nama Liaoning. Ini adalah kapal induk modern pertama dalam layanan PLAN, tetapi perannya terutama untuk mempelajari desain dan operasi kapal induk, bukan sebagai kapal tempur utama.

Setelah Liaoning masuk layanan, PLAN membangun kapal induk pertama yang sepenuhnya diproduksi di dalam negeri, Shandong, yang mulai beroperasi pada 2019. Meskipun tampak mirip dengan Liaoning, Shandong memiliki sejumlah peningkatan desain.

Kini, kapal induk ketiga China, Fujian, sedang menjalani uji laut setelah mulai beroperasi pada 2022. Fujian lebih modern dibanding dua pendahulunya dan dilengkapi sistem peluncuran ketapel elektromagnetik, mirip dengan kapal induk kelas Ford milik Angkatan Laut AS yang akan datang.

Sistem ini memungkinkan peluncuran pesawat yang lebih berat dengan laju lebih tinggi dan meningkatkan efisiensi operasi kapal induk.

Meski lebih canggih, ambisi kapal induk PLAN tidak berhenti di sana. Kapal induk terbaru China, yang sementara dikenal sebagai Type 004, akan menjadi jenis kapal induk yang sepenuhnya baru.

Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT)Foto: Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT)

Di Kapal Selam pun AS Mulai Cemas

Laut adalah satu-satunya medan terakhir di mana Amerika masih memiliki keunggulan militer jelas atas China.

Di dunia perang modern yang semakin transparan oleh sensor.

"Berada di bawah air penting karena itu salah satu tempat terakhir untuk bersembunyi," kata Thomas Shugart, mantan submariner. Namun dominasi bawah laut Amerika juga mulai terancam, dikutip dari The Economist.

Awak kapal selam Amerika dahulu meremehkan kapal selam Tiongkok yang dianggap terlalu berisik. Kini, ejekan itu berubah menjadi kekhawatiran.

Presiden China Xi Jinping membangun angkatan laut terbesar di dunia dan arsenal nuklir yang tumbuh tercepat sekaligus sedang memperkuat armada kapal selamnya.

Saat ini, armada China sebagian besar masih menggunakan kapal selam bertenaga konvensional yang terbatas kecepatan dan daya jelajahnya.

Namun dalam satu dekade ke depan, intelijen Amerika memperkirakan kapal selam nuklir generasi baru akan mendominasi, menantang supremasi Amerika di Pasifik, Samudra Hindia, bahkan mungkin Atlantik.

Sumber militer Amerika menyebut China mengembangkan kapal selam yang jauh lebih senyap dengan bantuan teknologi Rusia. Wakil Laksamana Richard Seif menyebut kapal-kapal baru Tiongkok sebagai sangat tangguh dan menantang dominasi bawah laut AS.

Sebuah kapal selam terlihat selama Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Rishi Sunak dari Inggris dan Perdana Menteri Anthony Albanese dari Australia pertemuan Kemitraan Australia â Inggris â Amerika Serikat (AUKUS) di Naval Base Point Loma di San Diego, California , Amerika Serikat pada 13 Maret 2023. (Tayfun Coskun/Anadolu Agency via Getty Images)Foto: Sebuah kapal selam terlihat selama Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Rishi Sunak dari Inggris dan Perdana Menteri Anthony Albanese dari Australia pertemuan Kemitraan Australia â Inggris â Amerika Serikat (AUKUS) di Naval Base Point Loma di San Diego, California , Amerika Serikat pada 13 Maret 2023. (Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency)

Kepala intelijen angkatan laut AS, Laksamana Muda Michael Brookes, memperkirakan China akan memiliki 70 kapal selam tahun depan dan 80 pada 2035, termasuk sekitar 40 kapal nuklir, lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Sebagai perbandingan, AS memiliki 67 kapal selam nuklir.

Perlombaan AUKUS dan sekutu

Untuk mempertahankan keunggulan, AS membentuk AUKUS bersama Australia dan Inggris untuk transfer teknologi kapal selam nuklir. Namun kapal baru tidak akan siap sampai 2040-an. Sementara itu, AS berencana menjual 3-5 kapal selam Virginia ke Australia pada 2030-an.

AS juga bekerja sama dengan Korea Selatan untuk membangun kapal selam pemburu, sementara Jepang menunjukkan minat.

Namun masalah besar muncul: kemampuan industri AS tidak mampu memenuhi target produksi. AS hanya mampu membuat sekitar 1,1-1,2 kapal Virginia per tahun, jauh di bawah kebutuhan 2,33 unit per tahun.

Armada kapal selam AS juga menyusut dari sekitar 70 menjadi 67, dan bisa turun lagi sebelum kembali meningkat di pertengahan abad ini. Bahkan sepertiga kapal selam tidak aktif karena perawatan yang lama. Beberapa kapal bahkan dinonaktifkan.

Britania Raya juga menghadapi masalah serupa dalam industri kapal selamnya, yang bisa mengancam proyek AUKUS.

Tantangan China

China di sisi lain, diperkirakan mampu memproduksi dua kapal selam serang dan satu kapal nuklir balistik per tahun sejak 2024 berkat fasilitas baru. Kapal selam nuklir mahal karena membutuhkan baja khusus, pengelasan presisi, dan sistem stabilitas kompleks.

Kapal selam nuklir adalah revolusi. Mereka dapat beroperasi puluhan tahun tanpa isi ulang bahan bakar. USS Nautilus pada 1958 menjadi kapal pertama yang menembus es Arktik. Inggris bahkan mencatat patroli 205 hari tanpa henti.

Air laut cepat menyerap cahaya dan gelombang radio, membuat kapal selam sulit dideteksi tetapi juga sulit berkomunikasi. Suara menjadi kunci utama. Submariner harus memahami suhu, salinitas, dan arus laut untuk mencari terowongan suara agar bisa mendeteksi musuh.

Kapal selam modern sangat senyap seperti mesin dipasang di "rakit" peredam suara, lambung dilapisi karet, dan kru harus menjaga agar tidak ada benda longgar yang menimbulkan suara.

Perang bawah laut modern

Dalam Perang Dunia II, kapal selam Amerika berhasil menenggelamkan lebih dari 55% kapal Jepang. Kini, China khawatir hal serupa bisa terjadi pada jalur minyaknya di mana 80% impor minyak Tiongkok melewati Selat Malaka.

China juga mengembangkan sistem "Tembok Besar bawah laut", jaringan sensor dan satelit untuk mendeteksi kapal selam AS. Mereka juga menciptakan "bastion" untuk melindungi kapal selam nuklirnya.

Namun AS yakin keunggulan sensor dan stealth masih berpihak padanya.

Batasan Amerika

Meski unggul, kapal selam AS memiliki keterbatasan yakni amunisi terbatas, sulit diisi ulang, dan hanya sedikit pelabuhan yang bisa digunakan di Pasifik seperti Guam, Pearl Harbor, dan Perth.

Drone bawah laut mulai dikembangkan sebagai solusi.

Perusahaan seperti Anduril membuat kendaraan bawah laut tanpa awak seperti Ghost Shark untuk Australia dan AS. China juga mengembangkan drone laut sendiri.

Namun komunikasi bawah laut masih sulit, sehingga penggunaan sistem tanpa awak penuh masih terbatas secara teknis dan etis.

Masa depan peperangan laut

Menurut Laksamana Cavanaugh, masa depan adalah kombinasi manusia dan mesin. Drone bisa masuk ke area lebih berbahaya, tetapi kapal selam berawak tidak akan hilang dalam waktu dekat.

"Masih ada tempat untuk keduanya tapi saya tidak melihat kapal selam berawak akan hilang selama hidup saya," katanya kepada The Economist.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |