Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan 20 pabrik bioetanol baru di Indonesia pada tahun 2027. Hal itu menyusul adanya target implementasi campuran bioetanol 10% (E10) dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tahun depan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mendorong percepatan investasi pembangunan pabrik tersebut mulai sekarang. Ia menegaskan pihaknya tengah menjaring minat para investor untuk memastikan ekosistem bioetanol nasional dapat terbentuk sesuai jadwal.
"Saya ingin mendorong investasi etanol itu secepat mungkin bahkan hitungan kita di 2027 harus ada 20 pabrik" ujar Eniya dalam acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026, di Jiexpo, dikutip Kamis (3/9/2026).
Pemerintah memproyeksikan kebutuhan bahan baku (feedstock) untuk implementasi bauran E10 mencapai 1,2 juta kiloliter (KL) pada tahun depan. Namun, saat ini volume bahan baku yang berhasil dikumpulkan secara nasional baru tercatat sebanyak 70.500 KL per tahun.
"Kalau feedstock-nya untuk tahun depan E10 saja butuh sekitar kalau enggak salah 1,2 juta (KL) ya. Nah tetapi kita hanya bisa sekarang terhitungnya itu 70.500 kiloliter per tahun saat ini yang kita kumpulkan. Nah itu sampai akhir tahun kita berharap mulai ada feedstock yang terkumpul," tambahnya.
Pemerintah juga sedang melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menentukan spesifikasi pencampuran etanol ke bensin. Penentuan parameter teknis ini krusial karena spesifikasi untuk program E10 dan E20 diprediksi akan memiliki perbedaan pada performa pembakaran mesin.
"Kickoff program itu artinya kita masih diskusi dulu sama semua stakeholder untuk menentukan apa spek yang harus kita tentukan untuk dicampur ke bensin. Nanti kan ada parameter apa yang harus kita acu E10, E20 belum tentu sama juga spek etanolnya," tandasnya.
Target E10 Tahun 2027
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan penerapan BBM E10 akan diterapkan pada tahun 2027 mendatang, hingga kemudian dilanjutkan E20.
"E10 mungkin 2027, dan langsung ke E20 ya. Jadi goal-nya itu mungkin setelah perencanaannya selesai. jadi kita bertahap dulu, kita melakukan copy paste dari strategi yang dilakukan oleh B10, B20, B30, sampai sekarang B50," tutur Bahlil di Istana Negara, beberapa waktu yang lalu.
Bahlil menjelaskan kajian mandatory E20 itu sudah dilakukan sejak tahun 2025, dan hampir rampung. Dalam perencanaan baru akan diterapkan nanti pada tahun 2028 - 2029 mendatang.
"Kenapa? karena baru begitu etanol kita terapkan mandatory, maka kita bisa melakukan efisiensi atau penghematan terhadap impor BBM jadi untuk bensin. Tapi kita tidak kepingin begitu ktia terapkan E20 tapi etanolnya kita impor," kata Bahlil.
Untuk itu menurut Bahlil, pemerintah masih mau menyiapkan industri bioetanol terlebih dahulu. Rencananya penyiapan industri ini berlangsung 1 - 2 tahun mendatang dari bahan baku singkong, tebu, jagung, dan beberapa komoditas lainnya.
"Kita tidak ingin begitu kita terapkan E20 tapi etanolnya kita impor. Maka sekarang kita mempersiapkan industrinya terlebih dahulu," katanya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































