Mengapa "Good Afternoon" dari Bos The Fed Jadi Ucapan Termahal Dunia?

3 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

29 April 2026 15:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Ucapan "selamat siang" biasanya terdengar biasa saja. Namun, di pasar keuangan global, sapaan sederhana itu bisa terasa sangat mahal jika keluar dari mulut Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.

Di media sosial, sapaan Powell bahkan dijuluki "Most Expensive Good Afternoon" atau ucapan selamat siang paling mahal di dunia.

Julukan ini muncul karena Powell kerap membuka konferensi pers The Fed dengan kalimat sederhana, "Good afternoon". Bagi orang biasa, itu hanya salam pembuka. Namun, bagi investor dan trader, kalimat tersebut bisa menjadi tanda bahwa pasar akan segera memasuki fase penuh guncangan.

Sebab, setelah salam itu, Powell biasanya mulai menjelaskan arah suku bunga AS. Jika nada bicaranya terdengar keras atau memberi sinyal suku bunga tinggi bertahan lebih lama, pasar bisa langsung bereaksi. Saham tertekan, imbal hasil obligasi bergerak liar, dolar AS menguat, hingga aset berisiko seperti kripto ikut turun.

Fenomena ini kemudian menjalar ke media sosial. Banyak video pendek menampilkan suara Powell saat mengucapkan "Good afternoon", lalu disandingkan dengan grafik saham atau kripto yang tiba-tiba anjlok. Dari situ, sapaan Powell berubah menjadi meme pasar keuangan: terdengar sederhana, tetapi bisa membuat nilai aset menguap dalam hitungan menit.

Berawal dari Peran Powell di The Fed

Jerome Powell menjadi Ketua The Fed sejak Februari 2018. Sejak itu, setiap pernyataannya menjadi perhatian pasar global, terutama setelah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC.

FOMC adalah rapat penting The Fed untuk menentukan arah suku bunga acuan AS. Keputusan ini berpengaruh besar karena dolar AS menjadi mata uang utama dunia dan menjadi acuan banyak aset keuangan.

Ketika Powell terdengar hawkish atau cenderung mendukung suku bunga tinggi, pasar biasanya bereaksi negatif. Investor khawatir suku bunga tinggi akan menekan ekonomi, membuat biaya pinjaman lebih mahal, dan mengurangi minat terhadap aset berisiko.

Sebaliknya, jika Powell terdengar dovish atau memberi sinyal kebijakan yang lebih longgar, pasar bisa berbalik optimistis.

Inilah yang membuat setiap kata Powell ditimbang oleh pasar. Bukan hanya isi kebijakannya, tetapi juga nada bicara, pilihan kata, hingga kalimat pembuka yang dia gunakan.

Pencarian di Google Meledak Sejak 2024

Fenomena "Most Expensive Good Afternoon" juga terlihat dari Google Trends. Data pencarian global menunjukkan istilah ini praktis tidak muncul sejak 2004 hingga pertengahan 2024.

Minat pencarian baru terlihat pada Juli 2024, ketika indeksnya naik ke level 51. Puncaknya terjadi pada Desember 2024, saat indeks pencarian menyentuh 100, level tertinggi dalam 20 tahun.

Artinya, istilah ini baru benar-benar muncul dan ramai dalam dua tahun terakhir. Bukan karena Powell baru berpengaruh terhadap pasar, melainkan karena momen pasar yang jatuh setelah pernyataannya mulai dibuat menjadi konten dan hasilnya viral.

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, pencarian istilah ini masih beberapa kali melonjak. Salah satunya pada Desember 2025 dengan indeks 91, lalu Maret 2026 di level 79.

Hal ini memperlihatkan bahwa "Most Expensive Good Afternoon" bukan hanya candaan sekali lewat. Istilah ini bertahan karena publik melihat Powell sebagai sosok yang ucapannya bisa menggerakkan pasar global. Powell bukan hanya tokoh bank sentral yang ditunggu investor. Dia juga sudah menjadi bagian dari budaya internet di kalangan trader.

Pidato 8 Menit yang Bikin Dunia Kehilangan Miliaran Dolar

Salah satu contoh paling terkenal betapa mahalnya ucapan Powell terjadi dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (26/8/2022).

Saat itu, Powell hanya berpidato sekitar delapan menit. Namun, dampaknya sangat besar. Pasar global langsung terguncang hebat karena Powell menegaskan bahwa The Fed akan tetap agresif menaikkan suku bunga untuk menurunkan target inflasi.

Powell saat itu memperingatkan bahwa kebijakan moneter ketat akan membawa "rasa sakit" bagi rumah tangga dan dunia usaha. Namun, menurut dia, rasa sakit itu perlu ditanggung agar inflasi bisa kembali turun menuju target The Fed sebesar 2%.

Pesan tersebut membuat harapan pasar bahwa The Fed akan mulai melunak menjadi sirna. Investor langsung membaca pidato Powell sebagai sinyal bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Dampaknya langsung terasa. Wall Street rontok pada perdagangan Jumat. Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sama-sama anjlok lebih dari 3% yang menjadi salah satu penurunan harian terburuk sejak pertengahan Juni 2022.

Dalam waktu singkat, kekayaan para miliarder AS juga ikut menguap. Pidato delapan menit Powell disebut memangkas kekayaan orang-orang terkaya AS hingga sekitar US$78 miliar atau setara Rp1.326 triliun (asumsi kurs Rp17.000/US$).

Asia Ikut Kena Getahnya

Efek pidato Powell di Jackson Hole tidak berhenti di Wall Street. Pasar Asia juga ikut bergejolak pada perdagangan Senin (29/6/2022).

Indeks dolar AS saat itu melesat ke level tertinggi dalam 20 tahun. Mengutip data Refinitiv, pada pukul 13.34 WIB, indeks dolar AS menguat 0,46% ke level 109,478, tertinggi sejak September 2002.

Penguatan dolar AS membuat mata uang Asia tertekan. Rupiah melemah 0,49% ke Rp14.888/US$. Yen Jepang menjadi salah satu yang paling tertekan dengan pelemahan 0,87%, disusul yuan China yang turun 0,68% dan baht Thailand melemah 0,66%.

Pasar saham Asia juga ikut merah. IHSG sempat jatuh lebih dari 1,5% dan hampir menembus ke bawah level 7.000, sebelum pelemahannya berkurang pada sesi II perdagangan.

Indeks Nikkei Jepang anjlok 2,66%, Kospi Korea Selatan turun 2,13%, Straits Times Singapura melemah hampir 1%, dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,8%.

Kenapa Ucapan Powell Bisa Semahal Itu?

Besarnya pengaruh Powell tidak lepas dari posisi The Fed sebagai bank sentral paling penting di dunia.

Ketika The Fed menaikkan suku bunga, dolar AS biasanya menjadi lebih menarik. Imbal hasil aset berbasis dolar ikut naik. Akibatnya, dana global bisa keluar dari negara berkembang dan kembali masuk ke AS.

Bagi pasar saham, suku bunga tinggi juga menjadi tekanan karena biaya modal perusahaan meningkat. Valuasi saham, terutama saham teknologi dan aset berisiko, biasanya ikut tertekan.

Sementara bagi kripto, sinyal suku bunga tinggi juga menjadi kabar buruk karena investor cenderung menjauhi aset spekulatif saat likuiditas global mengetat.

Itulah mengapa setiap kata Powell selalu ditimbang oleh pasar. Nada bicara, pilihan kata, hingga kalimat pembuka bisa memicu reaksi besar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |