Lima Hari Naik 17%, Ternyata Ini yang Dorong IHSG

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini perlahan mulai bangkit. IHSG naik 17,09% dalam lima hari perdagangan terakhir sejak penutupan terendah pada 8 Juni 2026. Secara persentase, apabila indeks mengalami kenaikan sebesar 20% dari titik terendah tersebut, maka batas konfirmasi bull market akan berada di level 6.381,49.

Penyedia indeks global MSCI akan segera menyampaikan pengumuman penting bagi industri pasar modal Indonesia. Ada dua agenda yang akan menjadi penentu nasib pasar saham Tanah Air. Antara lain, hasil MSCI Accessibility Review pada tanggal 19 Juni 2026 dan pengumuman MSCI Classification pada tanggal 24 Juni 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengapresiasi emiten-emiten yang mendukung melalui aksi korporasi pembelian saham kembali (buyback) belakangan ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan komitmen dan rencana proposal buyback sudah mulai berdampak positif bagi laju pasar saham RI.

"Kita mengindikasikan sudah mulai dari komitmen dan rencana proposal buyback yang sudah masuk secara bertahap memang kita lihat sudah mulai terealisasi di pasar," ujarnya saat ditemui di gedung DPR RI Jakarta, Selasa (17/6/2026).

Selain sentimen buyback, kata Hasan, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mempengaruhi persepsi investor terhadap harga saham yang memang sudah mengalami penurunan yang signifikan.

"Sehingga mungkin investor memiliki konsensus gitu ya untuk masuk dan memulai mengkoleksi saham-saham yang terbaik yang ada di bursa. Saya lihat mengalami pembalikan ya di 1-2 minggu ini," ungkapnya.

Sebelumnya, aksi buyback saham sehubungan dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2025 bahwa emiten diperbolehkan untuk melakukan buyback sahamnya tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) hal ini menjadi petanda baik bagi kelangsung pergerakan harga pasar.

OJK mencatat, sebanyak 65 emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar aksi pembelian kembali (buyback) saham tanpa memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Total nilai alokasi dana dari seluruh aksi korporasi tersebut tercatat mencapai Rp65,34 triliun.

Data terbaru, realisasi dari rencana buyback tersebut saat ini baru mencapai 30%. Angka tersebut setara dengan Rp17,12 triliun yang merupakan hasil pelaksanaan dari 64 emiten.

Kebijakan ini mengacu pada ketentuan POJK Nomor 13 Tahun 2023 yang memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk membeli kembali sahamnya hingga batas maksimal 20% dari modal disetor, terutama dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Aksi buyback merupakan salah satu instrumen yang difasilitasi oleh regulator agar emiten memiliki fleksibilitas lebih dalam mengelola struktur permodalan.

Selain itu, langkah ini umumnya digunakan oleh pihak manajemen untuk memberikan sinyal keyakinan terhadap prospek fundamental dan kelangsungan usaha perusahaan. OJK menyatakan akan terus memonitor aktivitas pasar secara cermat untuk memastikan seluruh proses berjalan wajar, efisien, dan transparan.

Rincian Alokasi Dana Buyback 40 Emiten

Berdasarkan data pasar terkini, terdapat 40 data alokasi dana buyback emiten yang menjadi bagian dari rencana tersebut yang terpantau oleh penulis.

PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan alokasi maksimal terbesar dengan nilai Rp8 triliun, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp5 triliun, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Jaya Real Property Tbk (JRPT) yang masing-masing mengalokasikan Rp4 triliun.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |