Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menganggap lumrah kenaikan suku bunga deposito perbankan digital sebagai respons atas kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan bank-bank digital sangat mengandalkan dana pihak ketiga (DPK) terutama dana mahal. Belum lagi, bank-bank digital harus bersaing dengan bank-bank besar dalam merebut menghimpun dana masyarakat.
"Kalau deposito itu make sense ya, kalau suku bunga deposito. Karena kan ya namanya juga bisa dikatakan ya dalam beberapa hal, bank-bank digital terutama itu kan sangat mengandalkan dana, dana pihak ketiga, dana itu cukup mahal," tutur Dian saat ditemui di Gedung DPR RI, Rabu (17/6/2026).
Dian menilai, dengan keberanian para bank digital meningkatkan suku bunga deposito, artinya mereka masih yakin dengan stabilitas sistem keuangan.
"Saya kira mereka sudah kalkulasi itu. Jadi kalau risiko itu mulai meningkat, mereka juga tidak akan berani melakukan itu. Nah kalau saya melihat berarti mereka confidence terhadap sistem, itu masih oke kira-kira begitu," ucap Dian.
Ia kemudian mengakui bahwa ada potensi persaingan perbankan semakin ketat akibat kenaikan suku bunga acuan. Meski begitu, Dian berujar sejauh ini pasar likuiditas masih kondusif.
"Ya mungkin ya, soal likuditas kan, mungkin lah. Tapi ya kalau saya lihat pasar uang antara bank masih ini lah, masih normal. Masih progresnya masih normal, tidak ada sesuatu yang terlalu spiked gitu. Biasa aja, supply demand biasa gitu, masih belum ada permintaan yang sangat tinggi gitu. Saya nggak ngelihat itu sampai data yang terakhir, nggak begitu," terang Dian.
Seperti diketahui, BI telah mengerek BI Rate menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan BI pekan lalu.
Menanggapi hal itu, Komisaris PT Bank Jago Tbk. (ARTO), Anika Faisal mengatakan dengan kenaikan BI Rate, biaya pendanaan alias cost of fun (CoF) akan naik secara bertahap. Kondisi ini biasanya diikuti dengan kenaikan bunga deposito bank, tetapi ia menyebut hal itu harus dikaji lebih lanjut.
"Kita kan harus kaji, kita lihat juga. Mungkin juga nggak immediate. Tapi pasti harus secara bertahap akan ada. Ini udah kita masuk pada era suku bunga yang akan naik," ujar Anika saat ditemui di Gedung Dhanapala, Selasa (9/6/2026).
Sementara itu, PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) mengantisipasi kenaikan suku bunga banksentral dengan memperkuat struktur pendanaan. Direktur Bisnis Bank Raya Kicky Andrie Davetra memaparkan hingga kuartal I-2026, struktur CASA di entitas usaha BRI itu masih dalam tren cukup baik.
"Tentunya ini akan menjadi modal buat kami dalam menyikapi nanti perkembangan suku bunga ke depan," kata Kicky saat saat Public Expose Live BEI, Selasa (9/6/2026).
(mkh/mkh)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































