Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
19 February 2026 14:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan pada pengembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong pembangunan pusat data secara besar-besaran di Amerika Serikat (AS). Dari model AI generatif hingga layanan cloud computation, semuanya membutuhkan kapasitas server yang jauh lebih besar dibandingkan masa-masa sebelum terjadinya booming AI.
Namun, dibalik mengkilau nya teknologi ini, ada satu rantai pasok yang justru luput dari perhatian orang. Yakni mineral kritis atau rare earth yang menjadi bahan baku utama pada perangkat penunjang AI.
Mulai dari mikrochip, papan sirkuit, sistem pembuangan panas, hingga perangkat penyimpanan. Pusat data terdiri dari gabungan logam dan mineral yang tidak sederhana.
Melansir dari Visual Capitalist, Amerika Serikat ternyata masih sangat bergantung pada impor bahan baku tersebut. Artinya, pertumbuhan AI bukan hanya soal inovasi dan investasi infrastruktur digital, tetapi juga soal strategi bagaimana untuk mengamankan pasokan bahan baku.
Chip Hingga Semikonduktor Paling Rentan
Bagian paling penting di pusat data adalah chip, yaitu komponen pemroses yang menjadi otak sistem AI. Chip ini bekerja untuk menjalankan komputasi berat, mulai dari melatih model AI sampai mengolah data setiap hari. Chip dibuat dari material semikonduktor dan membutuhkan banyak mineral pendukung dalam proses produksinya.
Masalahnya, untuk mineral mineral kunci tersebut, Amerika Serikat masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Untuk arsenik, fluorspar, galium, germanium, indium, dan tantalum, ketergantungan impornya mencapai 100%. Artinya, kebutuhan mineral ini praktis harus didatangkan dari negara lain. Selain itu, ada juga mineral penting yang masih banyak diimpor, seperti platinum 85% dan paladium 36%.
Memang, silikon sebagai bahan dasar semikonduktor ketergantungan impornya lebih rendah, yaitu di bawah 50%. Namun silikon saja tidak cukup untuk membuat chip canggih.
Ada banyak bahan tambahan yang dipakai dalam jumlah kecil, tetapi sangat menentukan performa dan efisiensi. Karena banyak bahan pendukung ini masih bergantung impor, rantai pasok chip dan pusat data tetap rawan terganggu jika pasokan global seret atau terjadi masalah di negara pemasok.
Papan Server dan Sirkuit Butuh Banyak Logam
Di luar chip, pusat data tetap tidak bisa berjalan tanpa papan server dan rangkaian sirkuit. Komponen ini membutuhkan berbagai logam konduktif dan logam mulia untuk memastikan aliran listrik stabil dan proses komputasi berlangsung cepat.
Amerika Serikat mengimpor 64% kebutuhan perak dan 73% kebutuhan timah, dua bahan yang banyak digunakan dalam penyolderan dan konduktivitas listrik pada perangkat elektronik. Tembaga yang menjadi tulang punggung kabel dan konektivitas juga masih bergantung impor 45%. Tantalum yang dipakai dalam kapasitor bahkan tercatat 100% impor.
Menariknya, emas justru menjadi pengecualian karena ketergantungan impor bersih tercatat 0%. Namun, ruang aman ini relatif kecil, mengingat mineral lain yang menopang ekosistem pusat data tetap didominasi pasokan global.
Pendingin Ikut Jadi Kunci, Bukan Sekadar Pelengkap
Operasional pusat data AI menghasilkan panas yang sangat besar karena server bekerja terus menerus dengan beban berat. Karena itu, sistem pendingin menjadi komponen yang tidak bisa ditawar. Salah satu elemen pentingnya adalah heat sink atau pembuang panas.
Heat sink bergantung pada aluminium dengan ketergantungan impor 47% serta tembaga 45%. Dengan kebutuhan pendinginan yang meningkat seiring pertumbuhan pusat data, ketergantungan impor di sektor ini ikut menjadi perhatian, karena gangguan pasokan material dapat berdampak langsung pada keandalan operasional pusat data.
Penyimpanan Data Bergantung Tanah Jarang
Di sisi penyimpanan data, pusat data memerlukan komponen seperti drive dan magnet yang banyak bergantung pada unsur tanah jarang. Ketergantungan impor untuk rare earth elements tercatat 80%, menandakan risiko pasok yang juga tinggi di sektor storage.
Selain itu, ada barit dengan ketergantungan impor lebih dari 75% untuk aplikasi terkait penyimpanan. Sementara boron tercatat 0% ketergantungan impor bersih. Kombinasi ini menegaskan bahwa pusat data bukan hanya soal server dan listrik, tetapi juga ekosistem material yang luas.
Ketergantungan Impor AS: Berpotensi Jadi Risiko
Tingginya ketergantungan impor untuk mineral kritis membuka risiko baru di tengah perlombaan AI.
Ketika pasokan global terganggu akibat konflik, pembatasan ekspor, atau persaingan geopolitik, biaya produksi dan kecepatan ekspansi pusat data bisa ikut terpukul.
Situasi menjadi semakin sensitif karena produksi dan pemrosesan berbagai mineral kritis di dunia terkonsentrasi pada beberapa negara. Dalam konteks ini, penguasaan rantai pasok mineral dapat menjadi faktor strategis yang sama pentingnya dengan penguasaan teknologi AI itu sendiri.
Pada akhirnya, perlombaan AI bukan hanya tentang siapa yang punya model paling unggul, pusat data paling besar, atau chip paling cepat. Ketersediaan mineral kritis bisa menjadi penentu yang tak kalah krusial, karena tanpa bahan baku tersebut, infrastruktur digital modern tidak akan dapat dibangun dan dioperasikan secara optimal.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

2 hours ago
2














































