Korban Pesta Emas dan Perak, Industri Perhiasan Dunia Berdarah-Darah

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas dan perak yang sempat melesat ke level tertinggi dalam sejarah membawa konsekuensi yang tidak seragam di industri perhiasan global.

Melansir CNBC international sebagai produsen perhiasan terbesar di dunia, Pandora sangat bergantung pada perak sebagai bahan baku utama. Ketika harga perak bergerak liar dan berada hampir tiga kali lipat dibanding setahun sebelumnya, tekanan langsung muncul di struktur biaya.

Analis Jefferies memperkirakan kondisi ini berpotensi memangkas laba Pandora hingga 60% pada 2027. Situasi ini diperparah oleh pelemahan daya beli konsumen berpendapatan menengah ke bawah, yang merupakan basis pelanggan utama perusahaan.

Upaya menaikkan harga jual sekitar 14% tidak sepenuhnya terserap pasar dan justru menurunkan keterlibatan konsumen. Dampaknya tercermin di pasar saham, dengan saham Pandora turun 46% sepanjang 2025 dan kembali melemah secara year to date.

Harga bahan baku naik, biaya produksi melonjak, ruang penyesuaian harga terbatas karena sensitivitas konsumen, sementara volatilitas perak membuat investor enggan memberi valuasi agresif.

Bahkan ketika harga perak sempat terkoreksi, ketidakpastian jangka menengah tetap membebani minat investor.

Kejadian berbeda terlihat di India, meski sumber tekanannya tetap sama, harga logam yang terlalu tinggi.

SCANX melaporkan di pasar ini, emas naik 56% hingga mencapai ₹1,20 lakh per 10 gram, sementara perak melonjak 69% menjadi ₹1,47 lakh per kilogram. Kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan preferensi investor.

Arus dana justru mengalir deras ke instrumen emas berbasis ETF. Pada Agustus, inflow Gold ETF melonjak 74% secara bulanan menjadi ₹2.190 crore, dengan jumlah investor tumbuh 42% secara tahunan.

Perpindahan dana itu berdampak langsung ke saham emiten perhiasan.

Saham Kalyan Jewellers, Senco Gold, dan Motisons Jewellers terkoreksi 32-36% secara year to date.

Dari 14 perusahaan perhiasan besar di India, hanya tiga yang mampu mencatatkan kenaikan tipis. Harga emas yang tinggi membuat konsumen ritel menunda pembelian atau beralih ke kadar emas yang lebih rendah. Proyeksi penurunan permintaan ritel mencapai 20-25% pada musim penjualan berjalan, meski sebagian perusahaan masih membukukan pertumbuhan laba kuartalan yang kuat.

Di India, tekanan datang dari perubahan saluran investasi. Emas tetap diminati, namun lebih banyak diakses melalui produk keuangan daripada perhiasan fisik. Kondisi ini membuat harga saham perusahaan perhiasan terlepas dari reli harga emas.

Sementara itu di Italia, tekanan harga emas memaksa perubahan di lantai produksi. Harga emas mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari 2026, lebih dari dua kali lipat dibanding setahun sebelumnya. Di sentra perhiasan seperti Vicenza, Arezzo, dan Valenza, perajin dan produsen merespons dengan menyesuaikan desain.

Kandungan emas dikurangi, bobot diperingan, sementara tampilan visual dijaga agar tetap menarik di mata konsumen yang semakin berhitung.

Menurut pelaku industri di Italia, permintaan untuk versi perhiasan yang lebih ringan datang dari konsumen ritel hingga merek internasional. Teknologi manufaktur digunakan untuk mempertahankan bentuk dengan kandungan logam yang lebih sedikit. Tekanan paling berat dirasakan bengkel kecil yang tidak memiliki akses lindung nilai. Fluktuasi harian harga emas dan perak langsung diteruskan ke harga ritel, membuat posisi mereka semakin rapuh.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |