"Kiamat" Baru Ancam Israel, Masa Depan Warga Terancam

16 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 1.370 dokter telah meninggalkan Israel antara tahun 2023 hingga 2025 berdasarkan studi terbaru oleh Universitas Tel Aviv. Angka ini secara nyata menyoroti semakin parahnya krisis pelarian kaum intelektual (brain drain) dari sektor medis di negara tersebut.

Mengutip Anadolu Agency, Selasa (8/9/2026), temuan mengkhawatirkan ini diterbitkan pada hari Minggu oleh surat kabar Israel, Haaretz. Studi tersebut mengklasifikasikan seorang dokter telah berstatus 'pergi' jika mereka menghabiskan waktu lebih dari 270 hari di luar negeri selama tahun pertama kepergian mereka dan tidak tinggal di Israel selama lebih dari tiga bulan berturut-turut setelahnya.

Penulis studi tersebut, Prof. Itay Ater, membeberkan bahwa para ekonom sejatinya telah memperingatkan sejak tahun 2023 akan adanya percepatan eksodus para profesional terampil di tengah sengkarut politik dan keamanan Israel.

"Kekhawatiran ini pertama kali muncul selama dorongan perombakan peradilan oleh pemerintah dan semakin intensif setelah serangan 7 Oktober 2023 serta perang yang mengikutinya," paparnya.

Para peneliti menyoroti secara khusus kepergian para dokter yang berusia di atas 45 tahun, kelompok yang umumnya telah menyelesaikan pelatihan spesialis dan memainkan peran sentral dalam mendidik dokter-dokter muda. Mirisnya, satu dari lima dokter yang minggat dari Israel selama periode tiga tahun tersebut berusia di atas 45 tahun, sebuah tren yang dinilai sangat mengkhawatirkan.

Kerugian ini memukul telak sejumlah spesialisasi medis. Sekitar 116 dokter mata, dokter kulit, dan spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) tercatat meninggalkan Israel, setara dengan 6,2% dari total dokter di bidang tersebut. Tak hanya itu, sebanyak 188 ahli bedah atau sekitar 6% dari total juga ikut hengkang. Wilayah Tel Aviv mencatat tingkat kepergian tertinggi, di mana 5,4% dokternya memilih untuk pergi.

Temuan ini menambah beban berat setelah laporan Kementerian Keuangan Israel pekan lalu menunjukkan bahwa sekitar 24% dokter spesialis di rumah sakit umum diperkirakan akan mencapai usia pensiun dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu, 25% lainnya sebenarnya sudah melewati usia pensiun tetapi terpaksa terus bekerja di tengah krisis kekurangan staf medis.

Ater kembali membunyikan alarm peringatan bahwa lintasan tren ini menjadi kekhawatiran yang jauh lebih besar daripada sekadar situasi saat ini.

"Tren ini bisa semakin memburuk setelah pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang," tegasnya.

Studi ini semakin melengkapi bukti kuat akan meningkatnya gelombang emigrasi besar-besaran dari Israel. Studi Universitas Tel Aviv lainnya pada bulan Agustus mengungkap bahwa 268.509 warga Israel telah meninggalkan negara itu antara 2023 hingga 2025 setidaknya selama tiga bulan, sebuah angka yang disebut lembaga penyiaran lokal KAN sebagai rekor tertinggi.

Maraknya kepergian warga ini secara langsung dikaitkan dengan perang yang terus berkecamuk, meroketnya biaya hidup, dan krisis politik seputar pelemahan kekuasaan peradilan. Berdasarkan jajak pendapat Kantar pada bulan Agustus, sekitar satu dari lima warga Israel telah mempertimbangkan untuk beremigrasi selama dua tahun terakhir, sementara 12% lainnya menyatakan bahwa hasil pemilu mendatang dapat sangat memengaruhi keputusan mereka untuk tetap bertahan di negara tersebut.

(tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |