Kejar Setoran Pajak, Purbaya: Perlu Extra Effort, Makanya Sakit-sakit

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sampai harus sakit-sakitan untuk mengejar target tinggi pengumpulan penerimaan negara pada tahun ini.

Ia mengatakan, target pengumpulan pajak yang tergambar dari rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026 akan mencapai 11-12%, dari yang pada 2025 turun ke kisaran 9%.

"Tapi biasanya memang enggak gampang, perlu extra effort. Makanya ini saya sambil sakit-sakit nih," kata Purbaya saat ditemui di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Untuk mengejar target tax ratio itu tanpa harus menaikkan tarif pajak, Purbaya mengatakan, cara pertama yang akan ia lakukan ialah mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dengan cepatnya pertumbuhan, ia menganggap kecenderungan masyarakat untuk membayar pajak akan makin tinggi, karena pendapatannya juga otomatis ikut naik.

"Jadi yang pertama, ekonominya tumbuh lebih cepat. Sekarang sudah lumayan tuh,
5,4% ya, lumayan lah," tegas Purbaya.

Cara kedua, ialah dengan memperbaiki kemampuan pengumpulan penerimaan negara di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) maupun Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Perbaikan ini dilakukan dengan mencegah kebocoran karena masih maraknya praktik kongkalikong antara wajib pajak dengan petugas pajak maupun bea cukai.

"Minggu lalu kan pajak kita ganti orang-orangnya, sebelumnya bea cukai. sekarang kita gunakan coretax yang lebih efektif. Kita tidak akan membiarkan lagi penggelapan pajak atau kongkalikong antara petugas pajak dengan para pelaku usaha," tuturnya.

"Kan banyak tuh, makanya ditangkepin kemarin tuh, kita beresin itu. terus apa lagi? Jadi kita efektifkan perilaku orang-orang kita, kami, di keuangan, pajak, bea cukai, dan lain-lain, supaya enggak ada kebocoran lagi," tegas Purbaya.

Terakhir, ialah dengan memperkuat penggunaan teknologi digital dari sisi pengawasan maupun administrasi layanan pajak maupun bea cukai.

"Kita juga menerapkan AI untuk mendeteksi under-invoicing. Sudah ketahuan tuh yang saya pernah sebut, ekspor CPO (minyak kelapa sawit), banyak sekali yang ketahuan under-invoicing. harganya dimurahin di sini, di luar negeri sana dijualnya lebih tinggi, dua kali lipat. nanti akan kita kejar," kata Purbaya.

Sebagaimana diketahui, realisasi penerimaan pajak pada 2025 juga tak mampu mencapai target, yakni hanya di sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6% dari target APBN 2025 yang sebesar Rp2.189,3 triliun. Bahkan, turun sekitar 0,7% dari realisasi pada 2024.

Namun, pada 2026 pemerintah menargetkan, penerimaan pajak masih mampu tumbuh lebih tinggi hingga mencapai ke level Rp 2.357,7 triliun.

(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |