Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
09 February 2026 12:22
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham domestik tengah diwarnai berbagai sentimen kurang baik yang bisa memicu volatilitas di pasar. Mulai dari spekulasi terkait penurunan Indonesia di indeks global MSCI, perubahan struktur organisasi di tubuh regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga perubahan free float menjadi 15%.
Di tengah dinamika regulasi dan ketidakpastian ini, saham-saham yang memiliki fundamental kuat serta kepatuhan free float yang baik menjadi "tempat berlindung" yang menarik. Terlebih lagi, jika emiten tersebut masih diperdagangkan dengan valuasi murah dan rutin membagikan dividen jumbo.
Likuiditas atau free float yang memadai menjadi kunci agar saham tidak mudah diguncang isu suspensi atau didepak dari indeks utama. Berdasarkan data pasar terbaru, berikut adalah 10 saham penghuni indeks LQ45 yang telah memenuhi standar free float, memiliki valuasi PE Ratio yang rendah, serta menawarkan potensi yield dividen yang menggiurkan.
Dominasi Sektor Energi dengan Imbal Hasil Tertinggi
Sektor energi, khususnya pertambangan batu bara, masih memimpin daftar saham dengan tingkat dividend yield tertinggi di dalam indeks LQ45. Berdasarkan data perdagangan, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan imbal hasil dividen sebesar 14,72%. Dengan harga saham di level Rp 2.120, valuasi ADRO masih cukup moderat dengan PE Ratio sebesar 7,69 kali.
Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). ITMG menawarkan imbal hasil dividen sebesar 13,62% dengan valuasi PE Ratio terendah di sektornya, yakni 6,57 kali. Sementara itu, PTBA memberikan imbal hasil sebesar 13,17% dengan PE Ratio di angka 8,89 kali.
Valuasi Menarik di Sektor Lain
Selain sektor energi, grup Astra juga menunjukkan valuasi yang menarik. PT United Tractors Tbk (UNTR) diperdagangkan dengan PE Ratio rendah sebesar 6,45 kali dan imbal hasil dividen 7,69%. Induk usahanya, PT Astra International Tbk (ASII), juga konsisten membagikan dividen dengan imbal hasil sebesar 6,17%.
Sementara itu, PT XL Axiata Tbk (EXCL) tetap membagikan dividen dengan imbal hasil tinggi sebesar 8,45%, meskipun secara rasio PE tahunan (Trailing Twelve Months) tercatat negatif.
Kinerja Solid Perbankan dan Potensi Dividen
Sektor perbankan juga menunjukkan kinerja yang stabil. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan imbal hasil dividen sebesar 9,20%, diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan imbal hasil 8,33%.
Secara khusus, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) baru saja merilis kinerja keuangan tahun penuh 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 56,3 triliun, meningkat 0,9% dibandingkan periode sebelumnya. Pendapatan perseroan tumbuh positif sebesar 8,7% menjadi Rp 164,4 triliun.
Dengan estimasi dividen per saham sebesar Rp 466,18, saham BMRI memiliki potensi imbal hasil dividen mencapai kisaran 9,3% jika mengacu pada harga pasar saat ini di level Rp 5.000. Angka ini jauh melampaui data historis dividen sebelumnya yang tercatat di kisaran 2,00%.
Bank Mandiri (BMRI): Laba Tembus Rp 56,3 Triliun, Aset Meroket
Bank Mandiri mempertahankan kinerjanya dengan mencetak kinerja solid. Berdasarkan dokumen laporan keuangan terbarunya, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 56,29 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik tipis sekitar 0,9% dibandingkan secara YoY sebesar Rp 55,78 triliun.
Kekuatan neraca BMRI semakin kokoh dengan total aset yang menembus Rp 2.829,9 triliun, naik signifikan dari posisi 2024 sebesar Rp 2.427,2 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi kredit yang agresif namun terukur. Penyaluran kredit secara konsolidasi tercatat mencapai Rp 1.849,9 triliun, melonjak dari Rp 1.623,2 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi pendanaan, kepercayaan nasabah terhadap Bank Mandiri tetap tinggi, tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 1.816,9 triliun, tumbuh dari Rp 1.446,2 triliun di 2024.
Secara rasio profitabilitas, BMRI mencatatkan Return on Equity (ROE) sebesar 17,19%, menunjukkan efisiensi modal yang sangat baik dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham.
BNI (BBNI): Fokus Perbaikan Kualitas Aset di Tengah Tekanan Laba
Di sisi lain, BNI menghadapi tahun yang cukup menantang. Bank yang fokus pada layanan internasional dan korporasi ini membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 20,04 triliun untuk tahun buku 2025. Angka ini mengalami koreksi atau penurunan sekitar 6,6% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 21,46 triliun.
Tekanan pada laba BNI sejalan dengan penurunan rasio profitabilitas utama. Net Interest Margin (NIM) BNI turun menjadi 3,80% dari sebelumnya 4,24%, mengindikasikan adanya tekanan pada Cost of Funds atau yield aset di tengah ketatnya likuiditas. Return on Equity (ROE) juga terkoreksi menjadi 13,97% dari 15,81% pada tahun sebelumnya.
Meskipun laba tertekan, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan pada sisi neraca. Total aset BNI tumbuh menjadi Rp 1.362 triliun dari Rp 1.130 triliun. Penyaluran kredit juga tumbuh positif menjadi Rp 899,5 triliun.
Kabar baiknya, kualitas aset BNI menunjukkan perbaikan yang solid. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Gross membaik ke level 1,93% pada 2025, turun dibandingkan 1,97% pada 2024. Hal ini menandakan keberhasilan manajemen BNI dalam melakukan bersih-bersih aset busuk dan menjaga kualitas kredit baru.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

2 hours ago
1

















































