Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan militer Israel kembali meluncurkan serangan udara mematikan ke Jalur Gaza yang menewaskan lima orang warga Palestina termasuk seorang komandan Hamas dan seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun pada Selasa. Eskalasi kekerasan ini terus terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata telah disepakati sejak Oktober lalu.
Mengutip AFP, lembaga pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa empat orang tewas dan enam lainnya luka-luka ketika sebuah pesawat tak berawak (drone) melepaskan dua rudal ke arah sebuah mobil di lingkungan Al-Rimal, Gaza City bagian barat. Seorang sumber keamanan Gaza mengidentifikasi dua dari korban tewas tersebut adalah komandan Hamas, Iyad al-Shanbari, dan putranya yang bernama Salah.
"Dua dari korban merupakan komandan Hamas Iyad al-Shanbari dan putranya Salah," kata sumber keamanan Gaza tersebut tanpa merinci dua korban tewas lainnya dalam insiden mobil itu, dikutip Rabu (29/4/2026).
Pihak militer Israel secara singkat mengonfirmasi bahwa mereka memang melakukan serangan yang ditujukan kepada target kelompok militan di lokasi tersebut. Militer menyatakan akan memberikan rincian lebih lanjut mengenai operasi ini di kemudian hari.
"Pasukan kami memang melakukan serangan terhadap seorang teroris di sana," ujar pihak militer Israel dalam pernyataan resminya.
Dalam insiden terpisah pada hari Selasa, badan pertahanan sipil setempat menyatakan bahwa seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun bernama Adel al-Najjar tewas saat serangan drone Israel terjadi bersamaan dengan tembakan artileri di timur Khan Yunis. Menanggapi kejadian tersebut, tentara Israel mengklaim bahwa mereka melihat seorang tersangka di area Yellow Line mendekati pasukan dan dianggap memberikan ancaman langsung.
"Seorang tersangka di area Yellow Line mendekati pasukan, menimbulkan ancaman langsung, dan memasuki sebuah bangunan yang kemudian dihantam oleh angkatan udara," jelas pihak militer.
Namun, setelah dilakukan peninjauan lebih lanjut, juru bicara militer Israel mengakui adanya kekeliruan terkait jatuhnya korban sipil dalam serangan di gedung tersebut. Mereka menyebutkan ada individu yang tidak terlibat masuk ke dalam bangunan sesaat sebelum serangan udara terjadi.
"Setelah peninjauan, menjadi jelas bahwa seorang individu yang tidak terlibat memasuki struktur tersebut dan kemungkinan besar terluka sebagai akibatnya," ungkap juru bicara militer.
Kekerasan ini menyusul laporan medis Gaza pada hari Senin yang menyebutkan bahwa mereka menerima jenazah Ayham al-Omari yang berusia 15 tahun setelah ditembak mati di kota Beit Lahiya, Gaza utara. Pihak militer Israel membela tindakan tersebut dengan alasan bahwa tentara di Gaza utara melepaskan tembakan setelah mereka mengidentifikasi seorang tersangka yang dianggap memberikan ancaman langsung kepada pasukan di lapangan.
Meskipun gencatan senjata sebagian besar telah menghentikan perang Gaza yang meletus setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, nyatanya pertumpahan darah masih terus berlanjut. Menurut kementerian kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas, setidaknya 818 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata dimulai, di mana data tersebut dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di sisi lain, militer Israel juga mencatat kerugian personel selama periode gencatan senjata tersebut. Mereka menyatakan bahwa lima tentara Israel telah tewas di dalam wilayah Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































