Ekonom Ungkap Kondisi Ekonomi RI di 2026, Sektor Ini Jadi Penopang

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom menilai komoditas tambang, energi, dan perkebunan akan menjadi penopang utama ekspor Indonesia tahun depan. Namun, para ekonom juga memperingatkan ada beberapa tantangan yang perlu dicermati terkait komoditas-komoditas andalan RI yang memiliki implikasi ke penerimaan negara.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan ekspor Indonesia akan tumbuh pada 2026 namun lebih moderat karena adanya normalisasi setelah percepatan pengiriman pada 2025, dengan penopang utama masih berasal dari komoditas tertentu dan manufaktur seperti produk sawit, besi dan baja.

Tantangan utamanya karena adanya tren perlambatan harga komoditas utama (batu bara, sawit, nikel) yang tetap berlangsung pada 2026.

"Tantangannya, eksternal masih rentan karena perang dagang dan perlambatan ekonomi mitra dagang besar, ditambah tren pelemahan sebagian harga komoditas yang dapat menekan penerimaan ekspor," ucap Josua kepada CNBC Indonesia dikutip pada Rabu (31/12/2025).

Hal yang sama juga dipandang oleh ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian. Ia mengatakan adanya tren pelemahan komoditas batu bara, minyak sawit dan logam-logaman dapat menekan penerimaan negara.

"Harga komoditas yang lebih rendah-terutama batubara, minyak sawit, dan logam-mengurangi pendapatan ekspor dan meredam arus kas perusahaan," ucapnya dikutip pada Rabu (31/12/2025).

Meskipun demikian, dirinya melihat ada potensi kejutan dari harga komoditas yang didukung oleh demam kecerdasan buatan (AI).

Fakhrul meyakini adanya siklus super infrastruktur AI dan pusat data meningkatkan permintaan global untuk logam, energi, dan komoditas terkait bandwidth.

"Siklus super infrastruktur AI dan pusat data meningkatkan permintaan global untuk logam, energi, dan komoditas terkait bandwidth-memperkuat pendapatan ekspor Indonesia."

Harga komoditas global yang lebih tinggi, didorong oleh booming AI/komputasi, meningkatkan pendapatan ekspor dan mendukung margin perusahaan.

"Logam seperti nikel, tembaga, bauksit, timah. Kemudian dari batubara dan minyak sawit semuanya mendapat manfaat dari siklus persediaan global yang membaik,"imbuhnya.

Namun, Fakhrul memberi catatan bahwa kenaikan harga komoditas akibat AI juga perlu mempertimbangkan sumber daya manusia yang masih cukup langka untuk mendukung pembangunan infrastruktur AI.

"Pada saat yang sama, talenta teknis, insinyur, spesialis listrik, arsitek cloud, tetap langka."

Sementara Analis Senior di Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny Sasmita melihat ada perubahan tujuan investasi di sektor komoditas.

Ia menilai, minat investasi di komoditas bahan mentah akan tergeser oleh investasi di bidang hilirisasi energi.

"Investasi, khususnya di sektor hilirisasi, energi, dan infrastruktur logistik, diperkirakan akan menjadi pembeda, bukan lagi ekspor komoditas bahan mentah," kata Surya kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (31/12/2025).

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |