Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah berencana mengurangi kuota impor minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah dan Asia seiring peningkatan pembelian energi dari Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini menjadi bagian dari kesepakatan dalam kerangka negosiasi tarif resiprokal antara Indonesia dan Negeri Paman Sam.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pengurangan impor akan diarahkan dari negara-negara yang selama ini menjadi pemasok utama Indonesia.
"Mengurangi dari negara lain ya. Ya Timur Tengah lah, Timur Tengah dan Asia," kata Bahlil, di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Kamis (19/2/2026).
Dalam negosiasi perjanjian resiprokal dengan AS, terdapat komitmen berupa pembelian produk energi senilai sekitar US$ 15 miliar. Produk yang masuk dalam kesepakatan tersebut meliputi Liquefied Petroleum Gas (LPG), Minyak mentah, dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Bahlil memastikan tambahan impor dari AS dilakukan dengan memperhatikan nilai keekonomian dan harga yang kompetitif. Namun, ia belum mau memberikan rincian terkait impor masing-masing komoditas yang akan diimpor.
Sementara itu, beberapa waktu lalu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah memetakan pengalihan impor LPG dari sejumlah negara di Timur Tengah ke Amerika Serikat.
"Ya ini kita lagi petakan dulu. Jadi kan impor LPG itu kan dari Timur Tengah itu sama Amerika. Jadi nanti mungkin akan ada switch import dari Timur Tengah itu menjadi impor dari Amerika," ujar Yuliot di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (4/7/2025).
Selain itu, kebutuhan Liquefied Natural Gas (LNG) dan minyak mentah untuk kilang dalam negeri juga akan dipenuhi sebagian dari AS. Selama ini, Indonesia telah mengimpor crude dari Amerika, namun tidak langsung melainkan melalui negara lain sebagai perantara.
"Kemudian crude untuk kebutuhan dalam negeri. Selama ini kan juga kita mengimpor crude, ada yang dari Amerika tetapi melalui negara lain. Jadi nanti akan diusahakan pencatatan langsung untuk impor dari Amerika," katanya.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto terbang ke Amerika Serikat (AS) untuk melakukan perundingan kerja sama bilateral dengan Presiden AS Donald Trump.
Dalam kunjungan itu, Presiden Prabowo turut didampingi oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Rombongan tiba di AS pada Selasa (17/2/2026).
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan, terdapat beberapa agenda pertemuan yang akan dibahas dengan pimpinan Negeri Paman Sam tersebut. Salah satunya yakni kerja sama terkait sektor energi.
"Ada beberapa agenda pertemuan di antaranya menjajaki kerja sama perdagangan kedua negara, termasuk di dalamnya sektor energi. Dan tentunya ini dalam dalam rangka kesepakatan tarif dagang dengan Amerika," kata Dwi Anggia kepada CNBC Indonesia, Rabu (18/2/2026).
(pgr/pgr)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































