Saham Rokok Ngebul Terus, Ada Apa?

3 hours ago 1

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

19 February 2026 10:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham rokok yang dulu dibilang sunset, saat ini malah kembali sunrise alias manggung lagi, selama tiga bulan terakhir tetap kuat di atas double digit.

Saham H.M Sampoerna Tbk (HMSP) pada kemarin Rabu (18/2/2026) terpantau bergerak paling kuat kisaran 10%, mengakumulasi penguatan bulanan menembus 21%.

Saham Gudang Garam Tbk (GGRM) menguat lebih moderat sebesar 3.53%, mengimplikasi kenaikan dalam sebulan hampir 12%.

Sementara Wismiliak Inti Makmur Tbk (WIIM) kemarin koreksi tipis kisaran 1%, tetapi dalam sebulan sudah naik nyaris 20%, bahkan dalam tiga bulan sudah terbang tembus 40%.

Sentimen momentum Ramadan disinyalir menjadi pendongkrak pergerakan saham rokok.

Pada periode tersebut, daya beli biasanya terdorong oleh pencairan THR serta meningkatnya aktivitas sosial dan tradisi berbagi. Kondisi ini berpotensi mendorong volume penjualan emiten rokok dalam jangka pendek, yang kemudian tercermin pada pergerakan harga sahamnya.

Selain itu, ada dua sentimen tambahan yang justru memberi angin segar bagi emiten rokok pada 2026.

Sentimen pertama adalah kepastian bahwa tarif cukai rokok 2026 tidak mengalami kenaikan. Pasca terpilihnya Menteri Keuangan yang baru, pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan cukai sepanjang tahun 2026.

Kebijakan ini dinilai bertujuan menjaga stabilitas industri hasil tembakau yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan regulasi cukup berat. Dengan tidak adanya kenaikan cukai, tekanan langsung terhadap margin perusahaan menjadi lebih ringan.

Mengingat biaya cukai bisa berkontribusi sekitar 20 hingga 30 persen terhadap total biaya produksi, stabilitas tarif menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas.

Sentimen kedua adalah tidak adanya kenaikan Harga Jual Eceran atau HJE. Secara teori, ketika HJE tidak dinaikkan, daya beli konsumen diharapkan tetap terjaga karena harga resmi di level ritel tidak terdorong naik oleh regulasi.

Namun dalam praktiknya, sejumlah produsen besar tetap melakukan penyesuaian harga jual di lapangan.

Beberapa produk sigaret kretek mesin premium dan mild tercatat mengalami kenaikan harga jual. Artinya, ruang pricing power masih dimiliki oleh pemain besar, terutama di segmen dengan loyalitas konsumen yang kuat.

Kombinasi dari dua faktor ini menarik untuk pasar saham. Di satu sisi, tidak adanya kenaikan cukai mengurangi risiko lonjakan biaya. Di sisi lain, kemampuan perusahaan menaikkan harga jual secara selektif berpotensi memperbaiki margin.

Jika volume penjualan relatif stabil dan kenaikan harga bisa dipertahankan, maka kinerja keuangan emiten rokok berpeluang membaik dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski industri rokok kerap dilabeli sebagai bisnis sunset sejak puncak kejayaan 2017 hingga 2018, realitanya sektor ini masih menghasilkan arus kas yang kuat dan tetap menjadi kontributor signifikan penerimaan negara.

Selama tidak ada kenaikan cukai yang agresif dan struktur tarif tetap terkendali, saham rokok cenderung mendapat sentimen positif dari sisi valuasi, terutama karena sektor ini defensif dan memiliki dividend yield yang relatif menarik.

Namun demikian, investor tetap perlu mencermati risiko jangka menengah seperti perubahan struktur tarif, potensi pengetatan regulasi kesehatan, serta tren konsumsi generasi muda.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |