Diam-diam India Lepas Ketergantungan dari China

8 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - India kian agresif mengolah limbah elektronik menjadi sumber mineral strategis untuk mengurangi ketergantungan pada China. Langkah ini menjadi bagian dari strategi New Delhi mengamankan pasokan bahan baku penting bagi industri teknologi tinggi, kendaraan listrik, hingga sektor pertahanan.

Mengutip AFP, Rabu (18/2/2025), upaya tersebut terlihat di sebuah pabrik daur ulang di negara bagian Haryana. Di lokasi itu, ratusan baterai bekas dihancurkan dan diekstraksi menjadi mineral penting seperti litium, kobalt, dan nikel, yakni komoditas krusial bagi ponsel pintar, pusat data, hingga jet tempur.

Di fasilitas Exigo Recycling, baterai skuter listrik diolah menjadi bubuk hitam pekat, lalu melalui proses pelarutan, penyaringan, dan penguapan hingga berubah menjadi bubuk putih halus berupa litium.

"Ini adalah emas putih," kata ilmuwan utama fasilitas tersebut sambil menunjukkan hasil akhir proses daur ulang.

Kekhawatiran global terhadap dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis mendorong India beralih ke sumber yang selama ini terabaikan, yakni limbah elektronik. Permintaan mineral strategis diperkirakan terus melonjak, sementara penambangan domestik India diproyeksikan belum menghasilkan output signifikan setidaknya selama satu dekade. Dalam kondisi ini, limbah elektronik dipandang sebagai solusi jangka menengah.

Baterai bekas mengandung litium, kobalt, dan nikel. Layar LED menyimpan germanium, papan sirkuit mengandung platinum dan paladium, sementara harddisk menyimpan unsur tanah jarang. Karena itu, limbah elektronik kerap disebut sebagai "tambang emas" mineral penting.

Data resmi menunjukkan India menghasilkan hampir 1,5 juta ton limbah elektronik sepanjang 2024. Namun, para ahli memperkirakan jumlah sebenarnya bisa mencapai dua kali lipat dari angka tersebut.

Perkiraan industri menyebutkan aktivitas urban mining atau pemulihan mineral dari limbah elektronik berpotensi bernilai hingga US$6 miliar atau sekitar Rp97 triliun per tahun. Meski belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik, sektor ini dinilai dapat membantu meredam guncangan impor sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok India.

Namun, sebagian besar limbah elektronik masih dibongkar di bengkel-bengkel informal. Praktik ini umumnya hanya mengekstraksi logam bernilai cepat seperti tembaga dan aluminium, sementara mineral penting lainnya tidak dimanfaatkan secara optimal.

Sebagai informasi, kapasitas daur ulang formal India juga masih tertinggal dibandingkan China dan Uni Eropa yang telah berinvestasi besar dalam teknologi pemulihan canggih serta sistem ketertelusuran.

India saat ini tercatat memiliki ketergantungan impor 100% untuk mineral penting utama seperti litium, kobalt, dan nikel. Untuk menutup celah tersebut, pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi menyetujui program senilai US$170 juta atau sekitar Rp2,75 triliun guna memperluas daur ulang mineral strategis.

Program ini didukung kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen mengumpulkan dan menyalurkan limbah elektronik ke pendaur ulang resmi.

"EPR telah bertindak sebagai katalis utama dalam meningkatkan skala industri daur ulang," ujar Raman Singh, Direktur Pelaksana Exigo Recycling.

Meski demikian, tantangan masih besar. "Sebelum EPR diterapkan sepenuhnya, 99% limbah elektronik didaur ulang secara informal. Sekitar 60% kini sudah beralih ke sektor formal," kata Nitin Gupta dari Attero Recycling.

Catatan Program Pembangunan PBB menunjukkan lebih dari 80% limbah elektronik India masih diproses secara informal, dengan risiko kesehatan dan lingkungan akibat pembakaran terbuka serta rendaman asam.

"Sektor informal masih menjadi tulang punggung pengumpulan dan pemilahan limbah," kata Sandip Chatterjee, penasihat senior Sustainable Electronics Recycling International.

Sejumlah inisiatif kini berupaya mengintegrasikan pekerja informal ke rantai pasok formal melalui pelatihan dan fasilitas kerja yang lebih aman. Langkah ini dinilai krusial agar India tidak hanya mengurangi ketergantungan pada China, tetapi juga memaksimalkan nilai ekonomi dari limbah elektronik yang selama ini dipandang sekadar sampah.

(tfa/mij)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |