Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) selama ini khawatir China akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat militernya. Alasan ini juga yang membuat AS mengeluarkan kebijakan pembatasan akses ekspor chip AI dan alat pembuat chip canggih buatan AS dan sekutu ke China.
Namun, AS belakangan mulai melunak. Presiden AS Donald Trump bahkan mengizinkan lisensi ekspor untuk chip H200 buatan Nvidia ke China. Chip tersebut merupakan prosesor tercanggih kedua Nvidia yang beredar di pasaran saat ini.
Di tengah 'kelonggaran' yang diberikan AS ke China, malah muncul laporan soal senjata 'pembunuh' baru yang tengah dikembangkan negara kekuasaan Xi Jinping, dengan memanfaatkan teknologi AI.
Laporan baru-baru ini menyebut China tengah mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan drone militer meniru perilaku hewan saat bertarung.
Penelitian yang dilakukan oleh engineer Universitas Beihang, kampus yang terafiliasi dengan militer, menghasilkan sistem drone yang dapat berperilaku layaknya elang dan merpati.
Dalam model tersebut, drone defensif bertindak seperti elang dengan menargetkan musuh yang paling rentan, sedangkan drone penyerang berperilaku seperti merpati untuk menghindari serangan.
Dalam simulasi lima lawan lima, drone 'elang' mampu menghancurkan seluruh drone 'merpati' hanya dalam 5,3 detik. Inovasi ini telah memperoleh paten pada April 2024 dan menjadi bagian dari agenda pertahanan China dalam mengembangkan kawanan drone otonom.
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) memandang AI sebagai kunci untuk mengoperasikan sistem tanpa awak, mulai dari drone hingga robot anjing, dengan intervensi manusia minimal.
Para teoritikus militer China bahkan menyebut era AI sebagai revolusi peperangan baru, dengan operasi kawanan sebagai metode tempur utama, sebanding dengan dampak historis bubuk mesiu terhadap peperangan global.
Penggunaan drone sendiri sudah sangat signifikan dalam konflik modern, termasuk di Ukraina. China memiliki keunggulan pada sisi industri, dengan kapasitas produksi lebih dari satu juta drone murah per tahun, jauh di atas kemampuan produksi Amerika Serikat yang hanya puluhan ribu unit dan berbiaya lebih tinggi.
Tak hanya drone, China telah memamerkan robot 'serigala' bersenjata yang dapat beroperasi bersama kawanan drone udara.
Para analis menilai AI juga dapat menutupi celah dalam pelatihan PLA mengingat struktur komando yang sangat terpusat dan minimnya pengalaman tempur banyak komandan.
Tak hanya terbatas pada pengendalian drone saja, dokumen pengadaan militer China menunjukkan riset pada sistem perang kognitif yang mampu menyiarkan deepfake, mengerahkan robot anjing, hingga menggunakan suara terarah untuk menyerang target.
Meski masih dalam pengembangan, para ahli memperingatkan risiko jika keputusan mematikan dibuat tanpa kontrol manusia atau gagal dalam kondisi peperangan elektronik.
China juga mengkaji perilaku hewan lain, termasuk semut, koyote, domba, paus, elang, hingga lalat buah untuk meningkatkan koordinasi kawanan drone.
The Wall Street Journal mencatat bahwa sejak 2022, setidaknya 930 paten terkait kecerdasan kawanan diajukan institusi yang terkait militer China, jauh di atas AS yang hanya sekitar 60 paten.
Militer AS turut mengembangkan teknologi serupa, tetapi lebih fokus pada integrasi drone individual bersama prajurit manusia.
Para ahli mencatat bahwa kombinasi AI dan rantai pasok drone yang masif dapat memungkinkan PLA untuk membanjiri sistem pertahanan musuh dalam skenario seperti konflik di Taiwan.
"Dengan sangat mudah Anda bisa memiliki kepadatan tembakan di udara yang terus menerus menyapu dan mencari, sehingga membuat Taiwan sangat sulit melakukan operasi defensif," kata Stacie Pettyjohn dari Center for a New American Security, dikutip dari Times of India, Rabu (4/2/2026).
Para ahli militer China melihat AI sebagai solusi atas keterbatasan manusia, tetapi sebagian memperingatkan bahaya yang mengintai.
"Begitu sistem senjata berbasis kecerdasan buatan menimbulkan risiko keselamatan, 'kotak hitam algoritma' dapat menjadi alasan rasional bagi pihak terkait untuk menghindari tanggung jawab," tulis Zhu Qichao dari Universitas Pertahanan Nasional China.
Senjata Otomatis China
Sebelumnya, laporan Reuters juga menyebut China mengembangkan senjata otonom berbasis AI yang digadang-gadang bisa mengalahkan dominasi militer AS.
Negeri Tirai Bambu dikatakan secara sistematis memanfaatkan teknologi AI untuk memperkuat kemampuan tempur militernya, termasuk melalui kendaraan tempur, drone, hingga sistem simulasi perang canggih.
Pada Februari 2025, raksasa pertahanan milik negara China, Norinco, memperkenalkan kendaraan militer P60 yang mampu menjalankan operasi tempur secara mandiri dengan kecepatan 50 kilometer per jam. Kendaraan ini digerakkan oleh DeepSeek, model kecerdasan buatan buatan dalam negeri yang kini menjadi kebanggaan sektor teknologi China. Pejabat Partai Komunis China menyebut peluncuran tersebut sebagai bukti awal bagaimana Beijing memanfaatkan DeepSeek dan teknologi AI untuk mengejar ketertinggalan dalam perlombaan persenjataan dengan AS. Laporan terhadap ratusan makalah penelitian, paten, dan catatan pengadaan menunjukkan adanya upaya sistematis pemerintah China dalam memanfaatkan AI untuk keunggulan militer. Walau detail mengenai penerapan sistem senjata generasi baru masih dirahasiakan, dokumen pengadaan dan paten menunjukkan kemajuan signifikan menuju kemampuan seperti pengenalan target otonom dan pengambilan keputusan di medan perang secara langsung atau real time, sebuah kemampuan yang juga tengah dikembangkan oleh militer AS.
Huawei dan DeepSeek
Penelitian dan pengadaan terbaru menunjukkan peningkatan penggunaan chip Huawei oleh lembaga penelitian militer China. Langkah ini sejalan dengan kampanye publik Beijing untuk memperkuat kemandirian teknologi dan mengurangi ketergantungan pada komponen Barat.
Sementara, penggunaan model AI DeepSeek disebutkan dalam belasan tender dari lembaga-lembaga PLA yang diajukan tahun ini dan dilihat oleh Reuters. Hanya satu tender yang menyebutkan Qwen, model AI milik Alibaba yang merupakan pesaing utama di dalam negeri.
Menurut Jamestown Foundation, pengadaan yang terkait dengan DeepSeek meningkat pesat sepanjang 2025, dengan berbagai aplikasi militer baru yang muncul secara berkala di jaringan internal PLA.
Popularitas DeepSeek di kalangan militer mencerminkan upaya Beijing mengejar apa yang disebut sebagai "kedaulatan algoritmik" (algorithmic sovereignty), yakni mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat sekaligus memperkuat kendali atas infrastruktur digital yang penting bagi keamanan nasional.
Dokumen lain menunjukkan bahwa militer China tengah berinvestasi dalam teknologi senjata tanpa awak yang makin otonom. Setidaknya dua lusin paten dan tender menunjukkan upaya PLA mengintegrasikan AI agar drone dapat mengenali dan mengikuti target, serta bergerak dalam formasi tanpa intervensi manusia.
Universitas Beihang dikatakan menggunakan DeepSeek untuk meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan pada drone swarm yang ditujukan untuk menghadapi ancaman udara berkecepatan rendah dan ketinggian rendah.
Meski pejabat pertahanan China menegaskan bahwa kendali manusia akan tetap dipertahankan, analis menilai kemampuan ini bisa menjadi senjata pembunuh masa depan yang mampu menyaingi, bahkan mengancam, dominasi militer AS.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































