Jakarta, CNBC Indonesia - Saat banyak pekerja muda cemas pekerjaan mereka tergeser kecerdasan buatan (AI), Joseph Paredes justru mengambil jalur berbeda. Di usia 26 tahun, ia melewatkan bangku kuliah dan memilih menekuni keahlian las.
Hasilnya, penghasilan tahunannya bisa menembus US$100.000 atau setara Rp1,6 M, cukup untuk membeli rumah dan menafkahi keluarga. Paredes tidak melanjutkan kuliah karena kendala biaya dan ketiadaan beasiswa.
Ia langsung bekerja, sempat menjadi teknisi listrik yang menuntut mobilitas tinggi, enam hari seminggu bolak-balik Katy, Texas, ke Louisiana. Demi waktu keluarga yang lebih seimbang, ia beralih ke pengelasan.
"Saya punya etos kerja yang bagus dan cepat belajar. Saya coba, dan ternyata cocok," ujarnya.
Di tengah kekhawatiran AI, Paredes merasa profesinya relatif aman. Menurutnya, robot memang sudah hadir di pabrik, tetapi tetap membutuhkan manusia untuk mengoperasikan dan memastikan kualitas kerja.
"Kita masih butuh orang fisik, manusia, supaya robot-robot itu bisa bekerja," katanya.
Kepercayaan diri Paredes sejalan dengan pergeseran pilihan karier generasi muda. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada 2025 menunjukkan mayoritas warga AS khawatir AI akan menghilangkan banyak lapangan kerja.
Kekhawatiran ini mendorong minat pada pekerjaan keahlian yang sulit diotomatisasi, seperti pengelasan, plumbing, hingga landscaping. Studi Pearson pada 2023 memperkirakan AI berpotensi mengambil hingga 46% tugas di sejumlah pekerjaan kerah putih pada 2032, dibanding sekitar 27% pada peran kerah biru yang paling terdampak.
Artinya, pekerjaan berbasis keterampilan fisik dan teknis dinilai lebih "future-proof". Penasihat keuangan asal Connecticut, Bill Shafransky, menilai kekecewaan anak muda terhadap dunia kerja sudah muncul sebelum AI marak.
Namun, dengan AI makin masuk ke berbagai industri, mengantisipasi sejak dini adalah langkah cerdas. Banyak yang mengoreksi arah selagi masih punya waktu, sebelum sektor tertentu menjadi terlalu padat.
Pertama, tidak semua pekerjaan rentan terhadap AI. Profesi keahlian seperti las dan plumbing lebih sulit digantikan teknologi generatif dan bisa memberi keamanan ekonomi.
Kedua, work-life balance jadi tujuan utama. Jika pekerjaan menggerus kehidupan pribadi, wajar mencari peran yang lebih selaras dengan kebutuhan hidup.
Ketiga, jalur nontradisional patut dipertimbangkan. Kuliah bukan satu-satunya jalan mobilitas ekonomi. Bagi yang ingin cepat bekerja dan menghindari utang pendidikan, pekerjaan keahlian menawarkan stabilitas jangka panjang.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































