Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia meluncurkan serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak (drone) besar-besaran terhadap infrastruktur Ukraina pada Senin malam waktu setempat. Serangan ini menandai berakhirnya jeda singkat operasi militer yang sebelumnya diminta oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Presiden Vladimir Putin.
Serangan masif ini terjadi tepat saat Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte tiba di Kyiv untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Selain itu, gempuran ini juga mendahului pembicaraan damai tiga pihak yang dijadwalkan berlangsung di Uni Emirat Arab (UEA) minggu ini.
Presiden Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa Moskow melepaskan sekitar 450 drone jarak jauh dan 70 rudal semalam dengan target utama jaringan listrik nasional. Zelensky menuding Rusia sengaja memanfaatkan kondisi cuaca ekstrem untuk menyerang warga sipil.
"Mengambil keuntungan dari hari-hari terdingin di musim dingin untuk meneror orang-orang jauh lebih penting bagi Rusia daripada diplomasi," tegas Zelensky.
Senada dengan Zelensky, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyebut tindakan ini telah direncanakan sebelumnya. "(Vladimir) Putin menunggu suhu turun dan menimbun drone serta rudal untuk melanjutkan serangan genosidanya terhadap rakyat Ukraina," ungkap Sybiha melalui platform X.
Dampak dari gempuran tersebut sangat melumpuhkan. Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, menyatakan situs energi di seluruh negeri terkena "pukulan paling kuat" sepanjang tahun ini yang memicu pemadaman listrik luas. Di ibu kota, blok apartemen kehilangan akses pemanas, sementara sebuah pembangkit listrik di Kharkiv dilaporkan rusak permanen.
Angkatan Udara Ukraina memerinci bahwa Moskow meluncurkan berbagai jenis proyektil, mulai dari 4 rudal anti-kapal Zircon/Onix, 32 rudal balistik Iskander-M/S-300, hingga puluhan rudal jelajah jenis Kh-22 dan Kh-101. Meskipun sistem pertahanan udara berhasil mencegat 38 rudal dan 412 drone, sebanyak 27 rudal dan 31 drone dilaporkan berhasil menghantam 27 lokasi berbeda dan melukai sedikitnya 10 orang.
Di tengah situasi darurat tersebut, Sekjen NATO Mark Rutte tetap memberikan pidato di hadapan parlemen Ukraina dan menegaskan bahwa dukungan aliansi tidak akan goyah.
"Kami ingin memastikan bahwa perdamaian bertahan lama, sehingga anak-anak dapat menatap masa depan tanpa rasa takut dan membantu membangun bangsa yang besar. Ukraina adalah dan akan tetap menjadi hal yang esensial bagi keamanan kita," ujar Rutte.
Namun, Rebecca Bakos Blumenthal dari Global Rights Compliance menilai serangan ini membuktikan bahwa strategi militer Rusia tidak berubah meski di tengah upaya negosiasi yang dipimpin AS.
"Untuk keempat kalinya secara berturut-turut di musim dingin, taktik Rusia tetap tidak berubah: serangan sistematis terhadap energi dan infrastruktur sipil kritis Ukraina terus berlanjut tanpa henti. Serangan-serangan ini bukan merupakan insiden dalam perang, melainkan pusat dari strategi yang disengaja oleh Rusia," kata Blumenthal.
"Apa yang dipertaruhkan bukan hanya kemampuan Ukraina untuk bertahan di musim dingin lainnya, tetapi apakah Eropa dan komunitas internasional yang lebih luas akan bertindak menghadapi agresi perang Rusia dan pengabaiannya yang berkelanjutan terhadap hukum internasional," lanjutnya.
Hingga berita ini diturunkan, Newsweek melaporkan telah menghubungi Kementerian Pertahanan Rusia untuk mendapatkan komentar resmi. Sementara itu, utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan berada di Abu Dhabi pada Rabu dan Kamis untuk memantau putaran pembicaraan terpisah antara Ukraina dan Rusia.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
1

















































