Awas! Tekanan Belum Reda: Pasar RI Dikepung "Badai" Kabar Genting

2 hours ago 6
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup memburuk secara keseluruhan baik dari SBN, IHSG, maupun Rupiah.
  • Pasar AS kompak menguat, DJIA cetak rekor level tertingginya
  • Rilis data IKK, serta volume inflow ke pasar domestik menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah akhir pekan lalu. Pasar saham dan rupiah sama-sama terpuruk.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini dan sepekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan dengan ambruk 2% pada akhir perdagangan minggu lalu, Jumat (6/2/2026). Indeks ditutup turun 168,62 poin ke level 7.935,26. Sebanyak 673 saham turun, 118 naik, dan 167 tidak bergerak.

Nilai transaksi Jumat kemarin mencapai Rp 19,2 triliun. Melibatkan 32,74 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 14.341 triliun.

Dilihat dari nilai transaksi, perdagangan Jumat kemarin terbilang sepi. Investor tampaknya masih wait and see di tengah volatilitas pasar yang terbilang tinggi.

Sebagai gambaran rata-rata nilai transaksi harian pada pekan pertama Januari mencapai Rp 31,46 triliun. Pekan selanjutnya naik menjadi Rp 32,68 triliun dan 33,85 triliun di pekan ketiga Januari.

Puncak nilai transaksi terjadi pada periode 26-30 Januari 2026. Akan tetapi hal ini dipicu oleh aksi jual investor di tengah sentimen pengumuman evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Adapun mengutip Refinitiv, emiten-emiten blue chip menjadi pemberat utama indeks Jumat kemarin. Bank Central Asia (BBCA) yang turun 1,6% menjadi 7.675 berkontribusi -11,84 indeks poin. Kemudian diikuti oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -11 indeks poin dan Astra International (ASII) -10,24 indeks poin.

Lanjut ke nilai tukar Rupiah, Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (6/2/2026) atau jelang akhir pekan lalu.

Merujuk data Refinitiv, rupiah melemah 0,21% ke level Rp16.860/US$ pada penutupan perdagangan Jumat kemarin. Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,36% di posisi Rp16.825/US$. Level penutupan Jumat kemarin juga menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir atau sejak 22 Januari 2026.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.850-Rp16.888/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih berada di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,02% di level 97,845.

Pelemahan rupiah jelang akhir pekan ini terjadi di tengah sentimen eksternal yang masih dominan. Penguatan dolar dalam beberapa hari terakhir mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar pada aset berdenominasi greenback, yang pada gilirannya dapat menambah tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah.

Dolar AS juga masih mendapat dukungan setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve pekan lalu.

Pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu mendorong pemangkasan suku bunga agresif, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.

Di saat yang sama, meningkatnya sikap risk-off turut menopang dolar, seiring tekanan di pasar saham, khususnya saham teknologi di tengah kekhawatiran besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap berbagai sektor.

Sementara dari pasar obligasi, imbal hasil surat berharga negara (SBN) 10 tahun mengalami kenaikan ke level 6,44% atau naik dari level sebelumnya pada hari Kamis (5/2/2026) yang berakhir di level 6, 32%.

Pada Jumat (6/2/2026) imbal hasil SBN 10 tahun bergerak di level 6.317 - 6.444, yang dapat diartikan bahwa selama waktu perdagangan, aksi penjualan obligasi tenor 10 tahun ini cukup kuat.

Kenaikan pada kemarin Jumat (6/2/2026) merupakan kenaikan yang cukup signifikan hingga imbal hasil saat ini berada sama dengan level pada September 2025. Hal ini memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan Rupiah yang juga mengalami tekanan jual.

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |