Warga RI Doyan Makan, Ekonomi Jalan Tapi Ancaman Ini Mengintai

2 hours ago 1

Economic Outlook 2026

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

13 February 2026 11:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri makanan dan minuman (F&B) Indonesia kembali menunjukkan ketahanannya di tengah dinamika ekonomi global. Sektor ini tetap menjadi salah satu penopang utama konsumsi domestik.

Namun di balik kinerja yang relatif solid, pelaku industri mulai menyoroti tantangan struktural yang tak kalah krusial, yakni ketergantungan bahan baku impor dan belum optimalnya penguatan sektor hulu domestik.

Industri Tangguh, Penopang Konsumsi Nasional

Industri makanan dan minuman Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu sektor manufaktur paling resilien terhadap gejolak ekonomi. Perannya sangat strategis karena langsung berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyebut sektor ini berkontribusi sekitar sepertiga dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan nasional.

Kuatnya peran sektor ini juga tercermin dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada komponen makanan-minuman serta restoran dan hotel yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik sejak enam tahun terakhir.

Jika dilihat dari laju pertumbuhan industrinya, industri ini tumbuh sekitar 6,38% pada 2025, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,11% dan rata-rata industri manufaktur sekitar 5,15%.

Walau begitu, Adhi menilai peningkatan ini belum menyentuh potensi penuhnya. Adhi menyatakan bahwa pertumbuhan sektor ini pernah mencapai 7-9% pasca pandemi.

Ketergantungan Impor dan Rapuhnya Sektor Hulu

Di balik kinerja yang terlihat kuat, industri makanan dan minuman masih menghadapi persoalan struktural, terutama ketergantungan pada bahan baku impor serta lambatnya perkembangan sektor hulu domestik.

Kondisi tersebut membuat industri ini cukup rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok global, maupun volatilitas harga komoditas internasional.

Karena itulah penguatan sektor hulu menjadi langkah strategis jangka panjang yang semakin penting untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan industri.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

"Kita harus memikirkan bagaimana sektor hulu ini harus diberdayakan. Petani, peternak, nelayan semuanya, untuk bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap impor," kata Adhi. Menurutnya, ketidakpastian global saat ini semakin memperjelas urgensi tersebut

"Gejolak dunia terkait dengan geopolitik, terkait dengan climate change itu sangat berpengaruh. Begitu ada gejolak, harga naik, logistik naik, supply chain terganggu, waktu terganggu dan lain sebagainya," tambahnya.

Penguatan sektor hulu domestik dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih luas, mulai dari peningkatan pendapatan pelaku usaha kecil, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan ketahanan industri terhadap gejolak global. Karena itu, resiliensi industri makanan dan minuman ke depan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan output, tetapi juga dari seberapa kuat fondasi hulu domestiknya.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |