Produksi Resmi Dipangkas, Gimana Prospek Saham ANTM-NCKL Cs?

2 hours ago 4

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

13 February 2026 12:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral secara resmi menurunkan kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi sekitar 260 hingga 270 juta ton.

Angka tersebut lebih rendah sekitar 29 sampai 31% dibandingkan kuota 2025 yang mencapai 379 juta ton. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya memperbaiki harga nikel global yang sepanjang 2025 cenderung stagnan akibat kelebihan pasokan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal ESDM Tri Winarno sempat menyampaikan bahwa kuota produksi 2026 kemungkinan berada di kisaran 250 sampai 260 juta ton, dengan penyesuaian berdasarkan kapasitas serapan smelter domestik.

Dampak Terhadap Kinerja Emiten

Penurunan kuota produksi ini diperkirakan memengaruhi performa emiten nikel sepanjang sisa tahun ini.

Sejatinya, secara fundamental kebijakan ini punya tujuan untuk menyeimbangkan harga nikel, apalagi sudah dalam beberapa tahun ini turun terus, sampai akhirnya sejak akhir tahun lalu harga nikel global mulai merangkak naik kembali ke atas US$ 17.000 per ton, bertahan di posisi tertinggi selama sembilan bulan terakhir.

nikel

Namun dalam jangka pendek, pembatasan produksi bagi emiten berpotensi menekan volume penjualan bijih nikel sehingga perusahaan perlu menyesuaikan output-nya.

Secara profitabiltas hal ini akan lebih terasa setelah Maret 2026, karena produksi saat ini masih jalan dari aturan lama, penjualan nantinya akan lebih menciut karena risiko penurunan volume.

Meski begitu, kami nilai masih ada peluang bagi sejumlah emiten seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang sudah melakukan hilirisasi.

Ini karena mereka bisa menikmati harga jual yang lebih mahal seiring dengan kenaikan harga nikel dunia. Berkat itu, tiga saham itu malah mengapresiasi sentimen penurunan produksi nikel pada tahun ini.

Terlihat saham ANTM pada Kamis kemarin (12/2/2026) menguat 3,26% menuju Rp4.120 per saham, saham INCO juga merangkak naik 3.65% menjadi Rp7.100 per saham, dan saham NCKL melonjak 4,61% ke posisi Rp1.475 per saham.

Namun demikian, kenaikan harga diperkirakan tidak serta merta langsung menutup dampak penurunan volume penjualan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, kemampuan menjaga margin menjadi faktor krusial bagi emiten di tengah kebijakan produksi yang lebih ketat.

Dari sisi model bisnis, dampak kebijakan ini juga cenderung tidak merata.

ANTM dinilai paling terpapar pada penjualan bijih domestik sehingga relatif lebih sensitif terhadap pembatasan kuota. INCO cenderung lebih stabil karena fokus pada ekspor nikel matte dengan kontrak jangka panjang yang memberikan visibilitas pendapatan lebih baik.

Sementara itu, NCKL dinilai memiliki posisi lebih kuat berkat integrasi hulu dan hilir yang memudahkan pengelolaan bahan baku bagi fasilitas smelter.

Ke depan, strategi pengusaha bisnis nikel akan lebih berfokus pada efisiensi biaya operasional guna menjaga margin sembari mengoptimalkan momentum kenaikan harga nikel, ditengah penurunan produksi yang membuat volume penjualan turun.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |