Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyebut kenaikan biaya pendidikan belum membuat permintaan sepatu sekolah ikut tertekan. Industri alas kaki justru mencatat pesanan untuk kebutuhan tahun ajaran baru 2026 sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, meski kebutuhan tersebut masih ditopang oleh stok produksi 2025.
Perlu diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,55% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Kenaikan paling tinggi terjadi pada biaya taman kanak-kanak (TK) yang mencapai 1,73%, disusul biaya bimbingan belajar (bimbel) sebesar 1,58% dan biaya sekolah dasar (SD) sebesar 1,17%.
Kenaikan biaya TK pada Juli 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2025, biaya TK mengalami inflasi 1,59%, sedangkan pada Juli 2026 mencapai 1,73%.
Namun, kenaikan biaya pendidikan tersebut belum terlihat menekan permintaan sepatu sekolah. Sekretaris Jenderal Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan pesanan alas kaki untuk kebutuhan tahun ajaran baru justru mengalami sedikit peningkatan.
"Pesanan alas kaki di ajaran baru sekolah (tahun ini) ada kenaikan sedikit, dibandingkan tahun 2025 dan Ramadan, serta Lebaran 2026. Tapi itupun (disupply dari) overstock tahun 2025," kata Billie kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).
Kenaikan pesanan tersebut, menurut Billie, belum dapat menjadi gambaran industri meningkatkan produksi. Pasalnya, kebutuhan pasar pada tahun ini masih bisa dipenuhi dari persediaan yang tersisa dari produksi tahun sebelumnya.
"(Pasokannya dipenuhi dari) sisa produksi 2025 yang dipakai. Ini berdasarkan pengakuan pelaku industri domestik/lokal," ujarnya.
Dengan demikian, permintaan sepatu sekolah yang sedikit meningkat pada 2026 belum serta-merta menciptakan tambahan produksi baru. Industri masih memiliki ruang untuk memenuhi kebutuhan pasar melalui stok yang sudah tersedia.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kenaikan permintaan belum menjadi alasan bagi produsen untuk meningkatkan produksi pada tahun ini. Terlebih, industri masih menghadapi tekanan dari sisi biaya bahan baku.
Ketika ditanya apakah permintaan 2026 pada akhirnya memang tertutup oleh stok produksi 2025, Billie membenarkannya.
"Iya, 2026 justru produksi tidak banyak, karena bahan baku naik efek perang," sebut dia.
Di sisi lain, kenaikan biaya pendidikan juga terjadi pada sejumlah layanan lainnya. Biaya bimbingan belajar tercatat naik 1,58% pada Juli 2026, meskipun masih lebih rendah dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 1,91%.
Sementara itu, biaya sekolah dasar mengalami inflasi 1,17%, melandai dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 1,65%.
Bagi industri alas kaki, kondisi tersebut membuat gambaran pasar domestik menjadi cukup unik. Di satu sisi, kebutuhan sepatu sekolah masih ada dan pesanan bahkan naik tipis. Namun di sisi lain, kenaikan tersebut belum mendorong produksi, karena industri masih mengandalkan stok lama dan menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Artinya, dampak kenaikan biaya sekolah terhadap industri sepatu sejauh ini belum terlihat dalam bentuk pelemahan permintaan. Tekanan justru lebih terasa pada kemampuan industri untuk meningkatkan produksi di tengah mahalnya bahan baku.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
6

















































