Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Kanada kembali memanas setelah perundingan kedua negara gagal dan Washington memberlakukan tarif baru terhadap barang-barang Ottawa.
Presiden AS Donald Trump bahkan melontarkan kecaman keras dengan menuding Kanada selama ini menginginkan keuntungan seperti sebuah negara bagian AS. Ia menyampaikan kemarahannya melalui media sosial setelah negosiasi berakhir buntu pada Jumat.
"Kanada menginginkan keuntungan layaknya sebuah negara bagian AS, tanpa benar-benar menjadi bagian darinya!!!" tulis Trump. Ia kemudian menambahkan, "Selama bertahun-tahun, mereka juga telah mengenakan tarif dalam jumlah sangat besar terhadap para petani hebat kita. Cukup sudah!!!"
Eskalasi terbaru terjadi setelah AS mulai memberlakukan tarif 50% terhadap barang-barang Kanada senilai US$20 miliar atau sekitar Rp360 triliun. Produk yang terdampak sangat beragam, mulai dari tongkat hoki hingga alat penekan lidah.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi kebijakan tersebut.
"Anda sedang berperang ketika diserang, dan kami telah diserang," ujar Carney kepada wartawan di Ottawa, seperti dikutip Reuters, Senin (24/8/2026). "Kami tidak dapat menerima apa yang mereka tawarkan dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta."
Carney berjanji Kanada akan membalas tarif AS dengan kebijakan "dolar demi dolar". Pungutan baru itu diperkirakan mulai berlaku pada 8 September dan akan menyasar sejumlah produk AS, termasuk baja, produk susu, peralatan rumah tangga, dan elektronik.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer membela langkah pemerintahan Trump. "Kami sudah cukup bersabar, jadi kami mengambil langkah balasan. Kepentingan kami adalah melindungi pekerja Amerika dan melindungi rantai pasokan Amerika," katanya.
Dampak perang dagang ini diperkirakan tidak hanya terasa di sektor perdagangan. Dan Kelly, Presiden Federasi Bisnis Independen Kanada, memperkirakan 40% eksportir kecil Kanada akan terdampak langsung, sementara hampir sepertiga di antaranya memperkirakan pendapatan mereka merosot 50% atau lebih.
Eskalasi tersebut juga mengancam masa depan pakta perdagangan Amerika Utara atau USMCA yang mencakup AS, Kanada, dan Meksiko. Kesepakatan yang diteken Trump pada masa jabatan pertamanya itu mengatur perdagangan barang dan jasa sekitar US$2 triliun atau Rp36 kuadriliun per tahun, sementara Carney menyebut kegagalan perundingan terbaru sebagai "jelas bukan kabar baik" bagi masa depan pakta tersebut.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
4

















































