Trump Kerahkan Armada AS ke Iran, Tegaskan Ancaman Nuklir

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington telah mengerahkan armada militernya ke arah Iran di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara. Meski demikian, Trump menegaskan ia berharap kekuatan militer itu tidak perlu digunakan.

"Kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat," kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One, Kamis (22/1/2026), usai menghadiri pertemuan para pemimpin dunia di Davos, Swiss, seperti dikutip Reuters.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama beberapa kapal perusak berpeluru kendali diperkirakan akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.

Selain itu, Washington juga mempertimbangkan pengerahan tambahan sistem pertahanan udara untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan dari potensi serangan Iran.

Pengerahan ini memperluas opsi militer Trump, baik untuk memperkuat pertahanan pasukan AS di wilayah tersebut maupun untuk melakukan tindakan militer lanjutan. Langkah ini menyusul serangan Amerika Serikat terhadap situs-situs nuklir Iran pada Juni lalu.

Ketegangan meningkat setelah militer AS mulai memindahkan kapal-kapal perang dari kawasan Asia-Pasifik pekan lalu. Situasi ini dipicu oleh tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes yang melanda negara itu dalam beberapa bulan terakhir.

Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan bertindak terhadap Iran jika Teheran terus membunuh para demonstran. Namun, ia mengeklaim retorikanya telah membuat Iran mengendurkan langkah.

Menurut Trump, Teheran membatalkan hampir 840 eksekusi gantung setelah mendapat peringatannya.

Meski demikian, Trump kembali menegaskan Amerika Serikat akan bertindak tegas jika Iran mencoba melanjutkan program nuklirnya. "Jika mereka mencoba melakukannya lagi, mereka harus pergi ke area lain. Kami akan menyerang mereka di sana juga, sesederhana itu," ujarnya.

Iran saat ini diwajibkan melaporkan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait kondisi fasilitas nuklir yang diserang AS, termasuk dugaan keberadaan sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60%. Menurut tolok ukur IAEA, jumlah tersebut berpotensi cukup untuk membuat hingga 10 bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut.

Namun, IAEA menyatakan belum dapat memverifikasi stok uranium Iran selama setidaknya tujuh bulan terakhir, padahal pemeriksaan seharusnya dilakukan setiap bulan.

Di sisi lain, situasi dalam negeri Iran masih belum sepenuhnya stabil. Protes yang dimulai pada 28 Desember dari Grand Bazaar Teheran akibat kesulitan ekonomi dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah.

Kelompok pemantau hak asasi manusia HRANA yang berbasis di Amerika Serikat menyebut telah memverifikasi 4.519 kematian terkait kerusuhan, termasuk 4.251 demonstran, serta masih meninjau 9.049 kematian lainnya.

Sementara itu, pemerintah Iran akhirnya merilis data resmi pertama mengenai jumlah korban jiwa dalam gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara tersebut sejak akhir Desember lalu.

Berdasarkan pernyataan Martyrs Foundation yang disiarkan oleh Press TV pada Rabu (21/1/2026), lembaga tersebut memerinci bahwa dari total ribuan korban yang tewas, sebanyak 2.427 orang di antaranya merupakan warga sipil dan personel pasukan keamanan yang tewas saat berada dalam aksi.

Teheran mengategorikan para korban dari pihak keamanan dan warga sipil yang dianggap tidak bersalah sebagai "martir".

(tfa/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |