Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) mulai mempertimbangkan untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran seiring dengan konflik tengah memasuki pekan keempat. Penurunan eskalasi tersebut diambil menyusul klaim bahwa serangkaian target strategis Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah hampir terpenuhi secara keseluruhan.
Melansir Reuters, Presiden AS Donald Trump menyampaikan rencana penarikan mundur pasukan tersebut melalui unggahan di media sosial pribadinya. Ia menegaskan bahwa ancaman dari pihak Iran perlahan mulai dieliminasi sehingga kehadiran militer AS secara masif dinilai tidak lagi mendesak.
"Kami sangat dekat untuk memenuhi tujuan kami saat kami mempertimbangkan untuk mengakhiri upaya militer kami di Timur Tengah sehubungan dengan rezim Iran," ujar Trump melalui akun Truth Social miliknya, dilansir Reuters, Sabtu (21/3/2026).
Pernyataan mundurnya AS tersebut memunculkan kebingungan di antara negara-negara sekutu tradisionalnya. Pasalnya, dalam waktu yang hampir bersamaan dengan pernyataan tersebut, armada marinir dan kapal pendarat kelas berat Amerika Serikat terpantau masih bergerak menuju kawasan konflik dengan misi yang belum diumumkan secara resmi.
"Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, sebagaimana perlunya, oleh negara-negara lain yang menggunakannya. Amerika Serikat tidak!" tambah Trump.
Sikap lepas tangan terhadap keamanan Selat Hormuz ini berdampak langsung pada stabilitas rantai pasok energi global. Insiden saling serang yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Iran sejak akhir Februari lalu tersebut membuat infrastruktur vital rusak dan mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga 50%.
"Jika diminta, kami akan membantu negara-negara ini dalam upaya mereka di Hormuz, tetapi itu seharusnya tidak diperlukan lagi setelah ancaman Iran diberantas," tegasnya.
Di tengah rencana mundurnya AS tersebut, media lokal Iran justru melaporkan adanya serangan terbaru dari pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menyasar kompleks pengayaan nuklir Natanz, Iran, pada Sabtu pagi waktu setempat.
Meskipun tim teknis memastikan tidak ada kebocoran radioaktif yang membahayakan warga sekitar, insiden tersebut terus memicu kekhawatiran akan terjadinya guncangan ekonomi dunia yang lebih parah.
(hoi/hoi)
Addsource on Google

6 hours ago
4

















































