Jakarta, CNBC Indonesia - Data terbaru dari penyelidikan Amerika Serikat (AS) mengungkap fakta mengejutkan terkait kecelakaan maut pesawat China Eastern Airlines pada 2022. Pasokan bahan bakar ke dua mesin pesawat Boeing 737-800 disebut dimatikan saat pesawat masih mengudara sebelum akhirnya jatuh dan menewaskan seluruh 132 orang di dalamnya.
Temuan itu diungkap Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (National Transportation Safety Board (NTSB)) dalam data investigasi yang dirilis pekan ini. Pesawat nahas China Eastern dengan nomor penerbangan MU5735 jatuh di lereng bukit wilayah selatan China pada Maret 2022, dan menjadi bencana udara paling mematikan di China dalam tiga dekade terakhir.
Dalam laporan Reuters, Kamis (7/6/2026), NTSB menyebut tidak ditemukan masalah keselamatan maupun kerusakan teknis pada pesawat Boeing 737 tersebut. Fokus investigasi kini mengarah pada perpindahan sakelar bahan bakar mesin yang terjadi saat pesawat berada di ketinggian jelajah.
"Ditemukan bahwa saat terbang pada ketinggian 29.000 kaki, sakelar bahan bakar pada kedua mesin bergerak dari posisi 'run' ke posisi 'cutoff'. Kecepatan mesin menurun setelah pergerakan sakelar bahan bakar," tulis laporan NTSB.
Perlu diketahui, sakelar bahan bakar Boeing 737 sendiri merupakan kontrol fisik yang mengatur aliran bahan bakar ke mesin. Pilot harus menarik sakelar terlebih dahulu sebelum memindahkannya dari posisi "run" ke "cutoff".
Data tersebut berasal dari perekam data penerbangan atau flight data recorder yang ditemukan dari puing pesawat. Kotak hitam itu kemudian dianalisis di laboratorium NTSB di Washington karena Boeing merupakan produsen pesawat asal AS.
Laporan tersebut menjadi pembaruan signifikan pertama sejak kecelakaan terjadi lebih dari empat tahun lalu. Sebelumnya, regulator penerbangan China tidak memberikan pembaruan tahunan investigasi selama dua tahun berturut-turut.
Sebenarnya, Reuters pada 2022 juga pernah melaporkan bahwa penyelidik memusatkan perhatian pada tindakan awak pesawat. Kala itu dikatakan juga tidak ditemukan indikasi adanya kerusakan teknis.
Kecelakaan pesawat yang disengaja tergolong sangat jarang terjadi dalam dunia penerbangan. Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada 2015 ketika kopilot Germanwings sengaja menjatuhkan pesawat Airbus A320 di Pegunungan Alpen, Prancis, yang menewaskan 150 orang.
Kasus China Eastern kini juga memunculkan kemiripan dengan investigasi kecelakaan pesawat Air India di Ahmedabad, India, pada Juni lalu yang menewaskan 260 orang. Hingga kini, Administrasi Penerbangan Sipil China maupun China Eastern Airlines belum merilis laporan lengkap terkait penyebab kecelakaan MU5735.
(tfa/sef)
Addsource on Google

1 hour ago
3

















































