Jakarta, CNBC Indonesia — Memelihara kucing kini tidak lagi dipandang sekadar hobi atau aktivitas pengisi waktu luang. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kehadiran kucing di rumah dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan fisik maupun mental pemiliknya.
Interaksi sederhana seperti membelai, bermain, hingga merawat kucing dalam keseharian ternyata mampu memicu respons biologis dalam tubuh manusia. Respons ini berkaitan dengan hormon, sistem saraf, hingga kondisi psikologis yang lebih stabil.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga mendapatkan manfaat serupa. Bahkan, paparan terhadap hewan peliharaan sejak usia dini disebut mampu membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh. Berikut tujuh manfaat memelihara kucing yang telah dibuktikan secara ilmiah:
1. Menurunkan Tekanan Darah
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemilik hewan peliharaan, termasuk kucing, cenderung memiliki tekanan darah yang lebih rendah. Studi di Australia terhadap 5.741 responden menemukan bahwa efek ini tetap terlihat meskipun faktor lain seperti kondisi ekonomi dan indeks massa tubuh telah diperhitungkan.
Penurunan tekanan darah ini diyakini berkaitan dengan efek relaksasi yang muncul saat seseorang berinteraksi dengan hewan peliharaan. Aktivitas seperti membelai kucing dapat membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi respons tubuh terhadap stres.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada kesehatan kardiovaskular yang lebih baik dan menurunkan risiko komplikasi akibat hipertensi.
2. Mengurangi Stres dan Kecemasan
Kontak fisik dengan kucing, seperti mengelus atau memeluk, dapat merangsang produksi endorfin, hormon yang berperan dalam meningkatkan perasaan bahagia dan mengurangi rasa sakit. Hal ini membuat pemilik kucing cenderung merasa lebih rileks setelah berinteraksi dengan hewan peliharaan mereka.
Selain itu, aktivitas bermain dengan kucing juga memberikan distraksi positif dari tekanan sehari-hari. Rutinitas merawat kucing, seperti memberi makan atau membersihkan, turut menciptakan struktur aktivitas yang membantu menjaga stabilitas emosional.
Efek kombinasi ini membuat kehadiran kucing sering dimanfaatkan dalam pendekatan terapi untuk membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.
3. Menekan Risiko Penyakit Jantung
Penelitian dari University of Minnesota mengungkapkan bahwa individu yang tidak memelihara kucing memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung sekitar 30-40% lebih tinggi dibandingkan mereka yang memelihara kucing. Studi ini dilakukan selama satu dekade terhadap lebih dari 4.000 partisipan.
Efek perlindungan ini diduga berasal dari kombinasi beberapa faktor, seperti penurunan tekanan darah, berkurangnya stres, serta peningkatan kesejahteraan emosional. Semua faktor tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Dengan kata lain, kehadiran kucing di rumah tidak hanya memberikan kenyamanan emosional, tetapi juga berpotensi menjadi faktor protektif terhadap penyakit kronis.
4. Membantu Anak dengan Autisme
Interaksi dengan hewan peliharaan, termasuk kucing, terbukti dapat meningkatkan kemampuan sosial pada anak dengan autisme. Penelitian dari University of Missouri menemukan adanya peningkatan interaksi sosial yang signifikan ketika anak-anak tersebut berinteraksi dengan hewan.
Kucing dinilai memiliki karakter yang relatif tenang dan tidak terlalu menuntut, sehingga cocok untuk membantu anak-anak membangun rasa percaya diri dalam berinteraksi. Hubungan ini sering kali berkembang menjadi ikatan emosional yang kuat.
Orang tua dalam penelitian tersebut juga melaporkan adanya peningkatan kualitas hubungan dalam keluarga, karena kehadiran kucing membantu menciptakan suasana yang lebih hangat dan suportif.
5. Meredakan Nyeri Otot dan Sendi
Salah satu hal unik dari kucing adalah suara dengkurannya atau purring. Frekuensi suara ini berada pada kisaran 20-140 Hz, yang dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan efek terapeutik bagi tubuh manusia.
Getaran dari purring dipercaya dapat membantu mempercepat penyembuhan jaringan, serta meredakan nyeri pada tulang, otot, dan sendi. Meski masih terus diteliti, temuan ini membuka potensi manfaat biologis yang cukup menarik.
Bagi pemilik kucing, momen ketika kucing mendengkur di dekat tubuh bisa menjadi pengalaman relaksasi yang sekaligus memberi efek pemulihan secara alami.
6. Menjaga Kesehatan Mental
Interaksi dengan kucing diketahui dapat meningkatkan kadar oksitosin, yaitu hormon yang berperan dalam membangun rasa kedekatan dan kenyamanan. Hormon ini sering dikaitkan dengan perasaan bahagia dan ikatan emosional.
Penelitian oleh Allen et al. (2020) juga menunjukkan bahwa bermain dengan kucing dapat menurunkan kadar kortisol, hormon stres dalam tubuh. Penurunan ini berbanding lurus dengan berkurangnya tingkat kecemasan dan meningkatnya rasa rileks.
Dalam konteks kesehatan mental, kehadiran kucing dapat menjadi sumber dukungan emosional yang konsisten, terutama bagi individu yang tinggal sendiri atau mengalami tekanan psikologis.
7. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh Anak
Paparan terhadap hewan peliharaan sejak usia dini, termasuk kucing, dikaitkan dengan peningkatan sistem imun pada anak. Anak-anak yang tumbuh bersama hewan peliharaan cenderung lebih tahan terhadap infeksi dan gangguan pernapasan.
Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh "terlatih" menghadapi berbagai mikroorganisme sejak dini. Paparan tersebut membantu tubuh mengenali dan merespons ancaman dengan lebih efektif.
Selain itu, risiko alergi juga disebut lebih rendah pada anak yang terbiasa berinteraksi dengan hewan peliharaan, menjadikan kucing sebagai bagian dari lingkungan yang mendukung kesehatan jangka panjang.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































