Tanda Kiamat Makin Dekat, Sehari Makin Lama Makin Panjang

2 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanpa disadari manusia, durasi waktu yang kita sebut sehari ternyata perlahan tapi pasti makin lama makin panjang. Perlambatan putaran Bumi yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir bahkan mencapai level yang belum pernah terjadi selama 3,6 juta tahun terakhir.

Fenomena ini disebut sebagai salah satu tanda betapa besar dampak aktivitas manusia telah mengubah wajah planet ini, bahkan hingga mempengaruhi cara Bumi bergerak di antariksa.

Dilansir dari laman Science Focus, penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim gabungan dari Universitas Wina dan ETH Zurich mengungkapkan bahwa perlambatan ini bukan lagi sekadar akibat gaya tarik gravitasi Bulan seperti yang sudah lama diketahui, melainkan kini didorong besar oleh perubahan iklim dan pemanasan global.

Setiap harinya, waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berputar satu kali penuh bertambah sedikit, diukur dalam hitungan milidetik. Angkanya memang tampak kecil, namun kekuatan yang dibutuhkan untuk mengubah gerakan Bumi sungguh tak terbayangkan besarnya.

Penyebab utama rotasi Bumi makin lambat adalah pencairan lapisan es di kutub dan gletser akibat suhu Bumi yang terus naik. Air yang dulunya membeku dan tertimbun berat di wilayah lintang tinggi (dekat kutub), kini mencair dan mengalir ke lautan, lalu menyebar perlahan menuju khatulistiwa.

Perpindahan massa air besar-besaran ini mengubah distribusi berat planet kita. Prinsip kerjanya mirip dengan atlet ice skating yang sedang berputar: saat penari merentangkan tangannya ke samping, putarannya akan melambat dibandingkan saat tangannya rapat ke badan. Demikian pula yang terjadi pada Bumi ketika massa air bergerak menjauhi poros putaran menuju khatulistiwa, kecepatan putaran Bumi pun berkurang drastis.

Selama ini, perlambatan rotasi Bumi memang selalu terjadi secara alami akibat tarikan gravitasi Bulan. Namun, penelitian terbaru ini membuktikan bahwa perubahan iklim kini telah menjadi kekuatan pendorong yang sama besarnya, dan diprediksi jauh lebih dominan dibanding pengaruh Bulan pada akhir abad ini.

"Perubahan panjang hari saat ini yang didorong oleh iklim terjadi pada kecepatan 1,33 milidetik per abad. Angka ini terdengar sepele, namun perpindahan massanya sangat luar biasa besar," jelas Profesor Benedikt Soja dari ETH Zurich, salah satu penulis studi tersebut.

Untuk membayangkan skalanya, pergeseran ini setara dengan perpindahan sekitar 1.000 gigaton air dari kutub ke samudra. "Bayangkan sebuah balok es padat setinggi 10 kilometer, lebih tinggi dari Gunung Everest, diletakkan menutupi seluruh wilayah Kota New York. Itulah jumlah massa yang bergerak," tambahnya.

Dari sisi energi, Mostafa Kiani Shahvandi, peneliti utama dari Universitas Wina, menyebutkan, "Perubahan energi rotasi Bumi ini setara dengan energi yang dilepaskan oleh gempa bumi berkekuatan 9,0 skala Richter." Bukan dalam hal kerusakan fisik di daratan, melainkan kekuatan murni yang menggerakkan skala planet.

Sejak Zaman Pliosen

Untuk memastikan apakah fenomena ini pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Bumi, para peneliti menelusuri catatan geologi hingga 3,6 juta tahun silam, atau yang dikenal sebagai zaman Pliosen Akhir. Mereka menggunakan fosil organisme laut bersel satu bernama foraminifera bentik. Kandungan kimia pada cangkang hewan kecil yang hidup di dasar laut ini merekam perubahan permukaan laut kuno, yang kemudian digunakan ilmuwan untuk menghitung bagaimana kecepatan Bumi berubah di masa lalu.

Dibantu teknologi kecerdasan buatan untuk menganalisis data yang sangat tua ini, hasilnya tegas yaitu tidak ada catatan geologi yang menunjukkan perubahan secepat dan sebesar ini akibat pergeseran massa air.

Sebuah peristiwa langka sekitar dua juta tahun lalu sempat mendekati kondisi saat ini. Kala itu, pencairan es besar-besaran terjadi akibat lonjakan alami karbon dioksida dan kondisi lapisan es yang rapuh. Namun, peristiwa itu tidak pernah terulang lagi secara alami hingga sekarang.

"Peristiwa langka itu kini terulang kembali, bukan karena alam, melainkan aktivitas manusia. Kita mampu menghasilkan kekuatan sebesar skala planet yang sama hanya dalam kurun waktu satu abad lebih sedikit," tegas Soja.

Perubahan Ekosistem Ekstrem

Jika dunia terus bergantung pada bahan bakar fosil dan suhu bumi naik antara 3 derajat Celcius hingga 5 derajat Celcius, para peneliti memprediksi dampak perubahan iklim pada rotasi Bumi akan melampaui efek gravitasi Bulan sebelum tahun 2100.

Meskipun selisih waktunya hanya milidetik, dampak praktisnya sangat nyata dan krusial.

"Selisih waktu sekecil apa pun sangat menentukan ketepatan sistem penentuan posisi atau navigasi GPS di Bumi, hingga panduan wahana antariksa yang bergerak di tata surya," ungkap Soja.

Pergeseran rotasi ini menjadi cerminan nyata betapa dahsyatnya dampak yang manusia berikan pada sistem Bumi. Perpindahan massa air yang masif ini berjalan beriringan dengan naiknya permukaan air laut dan cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, dua hal yang akan sangat mempengaruhi kelayakan tempat tinggal manusia pada masa depan.

"Inti pesan paling penting dari penemuan ini adalah pengaruh manusia terhadap sistem Bumi sudah sedemikian dahsyatnya. Kita kini telah mengubah cara Bumi berputar, mekanisme paling dasar dari keberadaan planet kita," pungkas Soja.

Kini tim peneliti mulai meneliti dampak lain dari aktivitas manusia, seperti pengurasan air tanah dan perubahan siklus air, untuk melihat seberapa besar lagi kita mengubah ritme putaran Bumi yang dulunya dianggap abadi dan tak tersentuh.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |