FOTO : Kebun cabe yang dikelola Gen Z [ ist ]
Pewarta/editor : Irvan
MATAHARI pagi belum sepenuhnya menampakkan diri ketika Dani, pemuda kelahiran 2002, sudah berada di antara barisan tanaman cabai di Dusun Tambak Rawang, Desa Gunung Sembilan.
Kaos berkerah hitam yang dikenakannya telah basah oleh keringat. Di antara embun yang masih menempel pada daun, Dani berjalan menyusuri tanaman satu per satu yang sudah seluas 1200m2. Sesekali ia membungkuk, membalik daun dengan tangan kanan, lalu mengamati bagian bawahnya mencari tanda-tanda hama yang bisa mengancam tanaman.
“Musim kemarau seperti sekarang, jenis hama yang sering menyerang di bagian daun,” ujar Dani, Jumat (14/7).
Ia kemudian mengambil salah satu daun yang tampak memiliki bercak hitam. Warna hijaunya mulai berubah, pertanda tanaman sedang berhadapan dengan salah satu musuh yang paling dikhawatirkan petani.
Di tengah kebun, sebuah pondok bercorak Melayu berdiri sebagai tempat bernaung. Di sanalah Dani sesekali berteduh dari terik matahari, sekaligus tempat ia berbincang dan memikirkan bagaimana kebun cabainya harus dikelola.
Bagi Dani, kebun itu bukan sekadar tempat menanam.
Di sanalah ia membangun keberanian untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya hanya ia pelajari dari layar telepon genggam. Perjalanan itu bermula ketika ia pertama kali memberanikan diri menanam cabai.
“Awal panen mendapatkan 600 kilogram, dalam waktu 10 bulan,” kenangnya.
Hasil panen pertama itu tidak langsung dihabiskan. Uang yang diperoleh justru kembali diputar untuk mengembangkan usaha.
“Uangnya langsung saya putar untuk membeli peralatan yang saya butuhkan,” tambahnya.
Belajar dari Layar Ponsel
Dani tidak lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Ia juga tidak menghabiskan bertahun-tahun duduk di bangku sekolah untuk mempelajari ilmu bercocok tanam.
Modal awalnya justru sederhana: kemauan belajar dan kuota internet.
Hampir setiap persoalan yang ditemuinya di kebun ia coba cari jawabannya melalui internet. YouTube menjadi salah satu tempat Dani belajar memahami karakter tanaman cabai, mengenali hama, menghitung kebutuhan pupuk, hingga menentukan perlakuan tanaman pada setiap fase pertumbuhan.
Dari layar kecil ponsel, ia perlahan membangun pengetahuannya sendiri. Apa yang dipelajari kemudian diuji langsung di kebun.
“Sebetulnya semua orang bisa berhasil, hanya dengan disiplin dan mau meluangkan waktunya untuk belajar. Di internet semuanya tersedia,” katanya.
Namun, belajar dari internet tidak membuat Dani menutup telinga terhadap pengalaman petani yang lebih tua. Ia justru mengakui banyak mendapatkan masukan dari mereka. Hanya saja, ia mencoba melihat kembali setiap metode dengan satu prinsip: efektif dan efisien.
Menghitung Setiap Tetes Pupuk
Menurut Dani, bertani bukan hanya soal menanam dan menunggu tanaman berbuah. Ada perhitungan yang harus dilakukan agar setiap biaya yang dikeluarkan benar-benar memberikan hasil.
Ia mencoba membedakan perlakuan tanaman berdasarkan fase pertumbuhannya. Kebutuhan tanaman ketika sedang membentuk batang dan daun, menurutnya, tidak sama dengan ketika tanaman mulai memasuki fase berbuah.
“Harus tahu setidaknya berapa persen pupuk yang dibutuhkan saat cabai fase bertumbuh dan fase berbuah,” ujarnya.
Ia menunjuk tanaman cabai yang buahnya mulai memerah dan hampir memasuki masa panen.
“Saat berbuah kita harus fokus pada pupuk yang akan menstimulasi buah. Jangan saat sudah fase berbuah kita terus pupuk fase bertumbuh. Itu akan mengurangi pemborosan penggunaan pupuk,” jelasnya.
Cara berpikir seperti itu menjadi salah satu hal yang menurut Dani membedakan caranya bertani. Ia tidak ingin sekadar mengikuti kebiasaan yang sudah dilakukan turun-temurun, tetapi mencoba memahami alasan di balik setiap perlakuan terhadap tanaman.
“Banyak masukan dari orang-orang tua. Tapi kebanyakan metode mereka banyak yang membuang biaya,” katanya.
Baginya, efisiensi bukan berarti mengurangi kebutuhan tanaman. Justru sebaliknya, setiap kebutuhan harus diberikan pada waktu dan jumlah yang tepat.
Cabai dan Risiko yang Dipilih
Menanam cabai bukan tanpa risiko. Cuaca, hama, penyakit tanaman hingga harga jual yang dapat berubah menjadi tantangan yang harus dihadapi petani. Sekali gagal panen, modal yang telah dikeluarkan bisa ikut terancam.
Dani menyadari risiko itu sejak awal.
Namun, ia memilih cabai karena melihat peluang keuntungan yang relatif cepat dibandingkan beberapa jenis tanaman lainnya.
“Memilih bertani cabai karena saya melihat uangnya lumayan dan lebih cepat melihat hasil daripada tanaman lainnya,” ujarnya.
Pilihan itu perlahan membuahkan hasil. Dari kebun yang dirawat dengan pengetahuan yang terus ia kembangkan, Dani mampu menghasilkan panen hingga ratusan kilogram. Perputaran hasil panen kemudian ia gunakan kembali untuk mengembangkan kebunnya.
Kini, tanaman-tanaman cabai itu tumbuh memenuhi lahan. Sebagian buahnya mulai membesar, menunggu waktu untuk dipetik.
Bagi sebagian orang, barisan tanaman itu mungkin hanya terlihat seperti kebun biasa. Namun bagi Dani, setiap tanaman menyimpan proses panjang: belajar, mencoba, gagal, memperbaiki, kemudian mencoba lagi.
Pagi semakin terang ketika Dani kembali menyusuri barisan tanaman. Tangannya masih sibuk membalik daun, memastikan tak ada hama yang luput dari pengamatannya.
Pondok Melayu di tengah kebun masih menjadi tempatnya bernaung. Sementara cabai-cabai yang tumbuh di sekelilingnya perlahan mendekati masa panen.
Di usia yang masih muda, Dani memilih tanah sebagai ruang belajarnya. Ia tidak memiliki buku teks pertanian yang tebal sebagai bekal awal. Hanya sebuah ponsel, koneksi internet, kemauan belajar, dan keberanian untuk mencoba.
Dari situlah cerita itu tumbuh seperti cabai yang pagi itu ia periksa satu per satu. Pelan-pelan, dirawat dengan ketekunan, hingga akhirnya mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai. [ red ]
Publisher : Admin radarkalbar.com

23 hours ago
5

















































