FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
JELANG 17 Agustus, anggota Partai Koptagusl merasa sangat meriah. Di samping bisa mengibarkan bendera merah putih, terhibur sekaligus kaget kemunculan Ibu Susanah asal Bogor. Gara-gara ibu asal Bogor itu, se-nusantara jadi tahu upah ngupas bawang Rp700 ribu per kilogram.
Simak lagi kisahnya sambil menikmati malam minggu, seruput Koptagul, wak!
Namanya Susanah. Buruh harian pengupas bawang dari Kabupaten Bogor ini mendadak menjadi perhatian nasional setelah hadir sebagai salah satu dari delapan “tamu istimewa” dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, 14 Agustus 2026.
Kalau biasanya ia berhadapan dengan bawang merah, hari itu musuhnya berubah, yakni kamera, wartawan, dan netizen.
Penampilannya pun bukan kaleng-kaleng. Susanah mengenakan busana dominan hitam dengan aksen merah menyala. Di kepalanya bertengger hiasan emas menjulang, lengkap dengan ornamen putih keemasan di bagian dada dan bahu. Kedua tangannya dirapatkan di depan dada.
Bak seorang ratu. Bedanya, tidak ada singgasana. Hanya kursi tamu kenegaraan. Tetapi internet tidak mengenal protokol.
Sejak fotonya beredar, Susanah mendadak dinobatkan secara tidak resmi sebagai Ratu Bawang Republik Internet.
Yang lebih spektakuler adalah drama angka ketika Presiden Prabowo Subianto memperkenalkannya. Dalam teks tertulis Rp700 perak, tetapi dibaca menjadi Rp700 ribu per kilogram.
Seketika internet mengalami kenaikan tekanan darah. Angka Rp700 perak mendadak punya popularitas mengalahkan harga saham. Lahirlah fenomena baru, warga mulai berimajinasi menjadi pengupas bawang.
“Kalau benar Rp700 ribu sekilo, buat apa saya kerja di kantor?”
Mungkin begitulah suara hati sebagian netizen. Pegawai kantoran mulai melirik meja kerja dengan tatapan kosong. Sarjana pengangguran mulai mempertimbangkan profesi baru. Pedagang, petani, bahkan pekerja yang sudah mapan mungkin mendadak bertanya:
“Di Bogor ada lowongan pengupas bawang nggak?”
Bogor pun dalam khayalan netizen berubah menjadi kota impian. Bukan lagi Kota Hujan. Tetapi Kota Masa Depan Para Pengupas Bawang.
Akang bayangkan kalau semua orang benar-benar percaya. Terminal penuh manusia membawa koper. Bukan membawa ijazah. Membawa pisau, sarung tangan, dan harapan. Spanduk lowongan kerja pun dibayangkan bermunculan.
Dibutuhkan: Pengupas Bawang.
Syarat:
1. Bisa mengupas.
2. Tidak takut menangis.
3. Siap menghadapi bawang dalam jumlah besar.
4. Jangan salah membaca nominal gaji.
Tentu saja, jangan sampai satire ini membuat orang menjual laptop lalu pindah ke Bogor.
Susanah sendiri adalah penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako. Ia bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang dan disebut tetap mampu menyekolahkan anak-anaknya berkat bantuan tersebut.
Ia dihadirkan pemerintah bersama tujuh tamu lainnya sebagai representasi warga yang merasakan manfaat berbagai program pemerintah, mulai dari petani, penerima MBG, siswa Sekolah Rakyat, hingga penerima bantuan sosial. Mereka memang sengaja diundang untuk diperkenalkan Presiden di hadapan anggota parlemen.
Inti kisah Susanah sebenarnya bukan soal menjadi kaya karena bawang. Ia adalah gambaran seorang ibu pekerja yang berjuang menyekolahkan anak.
Hanya saja, netizen punya kemampuan luar biasa mengubah cerita sederhana menjadi drama nasional. Dari pengupas bawang menjadi tamu kenegaraan. Dari tamu kenegaraan menjadi viral. Dari viral menjadi ratu. Dari Rp700 perak menjadi Rp700 ribu.
Kalau besok ada orang datang ke Bogor membawa koper, pisau, dan sarung tangan, jangan buru-buru curiga. Mungkin ia bukan sedang merantau. Mungkin sedang berburu bawang.
Sebab setelah melihat Susanah, bawang yang biasanya membuat orang menangis kini bisa membuat orang tersenyum. “Ini bukan bawang merah. Ini calon masa depan.”
Tapi kalau akhirnya semua orang benar-benar jadi pengupas bawang, satu masalah besar akan muncul, siapa yang nanti membeli bawangnya? Nah, di situlah Susanah mungkin tersenyum sambil berkata, “Sudah, jangan ikut-ikutan. Saya saja yang kupas. Kalian beli.”
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

6 hours ago
4

















































