Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham perbankan, terutama Himbara, besar mulai kembali menunjukkan taringnya pada Agustus 2026.
Kinerja saham bank bahkan sudah terlihat menggeliat sejak Juli 2026.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) yang sebelumnya tertekan cukup dalam mulai bangkit, seiring investor kembali memburu saham bank.
Penguatan tersebut ditopang banyak faktor mulai dari valuasi yang sudah murah, kembalinya investor asing, likuiditas domestik dan meredanya ketidakpastian suku bunga, serta rupiah yang makin stabil.
Merujuk Refinitiv, saham BBRI sepanjang bulan (1-24 Agustus 2026) ini sudah melesat 4,61%. Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya di mana saham BRI juga terbang 11,36% pada Juli 2026.
Saham BNI pada sepanjang bulan ini sudah melonjak 4,25%, memperpanjang tren positif di Juli yang melonjak 11,71%.
Sementara itu, saham Bank Mandiri sepanjang bulan ini sudah menguat 0,24% sementara pada Juli melonjak 8,83%.
Asing Kembali Borong Saham Bank
Salah satu sinyal paling kuat datang dari pergerakan dana asing.
Sepanjang Agustus 2026, investor asing di bursa saham Indonesia mencatat net buy sebesar Rp 996,85 miliar sementara di Juli mencapai Rp 1,61 triliun,
Arus dana tersebut menjadi sinyal bahwa investor asing mulai kembali melirik bursa saham Indonesia, terutama saham-saham bank setelah sebelumnya melakukan aksi jual dalam jumlah besar.
Sepanjang Agustus ini, BBRI mencatat net buy sekitar Rp 1,4 triliun (all market) sementara BNI net buy sebesar Rp 177 miliar. Namun, Bank Mandiri masih net sell sebesar Rp 731 miliar.
Faktor berikutnya adalah valuasi. Saham bank besar sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam. Dari awal tahun hingga akhir Juni 2026, saham Bank Mandiri terkoreksi sekitar 24,5% sementara BBRI turun 25,4%, dan BBNI 27,7%.
Koreksi tersebut akhirnya membuat valuasi sejumlah saham bank menjadi lebih menarik. Investor pun mulai membeli saham yang dinilai sudah terlalu murah setelah mengalami penurunan tajam.
Suku Bunga dan Rupiah Mulai Memberi Angin Segar
Sentimen positif juga datang dari Bank Indonesia. Pada Agustus, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga pada Mei dan Juni 2026.
Keputusan tersebut memberikan kepastian bagi pasar bahwa tekanan dari kenaikan suku bunga mulai mereda. Bagi perbankan, kondisi ini penting karena suku bunga berkaitan erat dengan likuiditas, biaya dana dan prospek penyaluran kredit.
Semakin kecil peluang kenaikan suku bunga lanjutan, semakin besar ruang bagi investor untuk kembali mengambil posisi di saham bank.
Stabilitas rupiah juga menjadi faktor penting.
Bagi investor asing, berinvestasi di pasar saham Indonesia berarti menghadapi dua risiko sekaligus, yakni pergerakan harga saham dan nilai tukar. Rupiah yang lebih stabil membuat risiko kerugian akibat fluktuasi kurs menjadi lebih rendah.
Kondisi ini pada akhirnya ikut meningkatkan daya tarik aset Indonesia di mata investor global.
Nilai tukar rupiah menguat tajam 1,6% sepanjang Agustus ini setelah ambruk dalam lima bulan sebelumnya.
Menariknya, kenaikan saham bank pada Agustus tidak hanya bergantung pada investor asing.
Likuiditas domestik mulai mampu menyerap tekanan jual asing. Investor lokal menjadi penopang harga ketika asing belum sepenuhnya kembali masuk.
Artinya, penguatan saham bank merupakan hasil kombinasi akumulasi investor domestik dan kembalinya sebagian dana asing.
(mae/mae)

2 hours ago
2

















































