Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Setiap kali kata nuklir disebut, yang terbayang biasanya bom atom atau bencana Chernobyl atau Fukushima. Wajar jika ada rasa takut, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa dunia sudah menggunakan nuklir puluhan tahun dan banyak negara maju menjadikannya andalan.
Fakta yang Jarang Diketahui Publik
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama kali beroperasi secara komersial pada 20 Desember 1951 di Idaho, Amerika Serikat. Saat ini, ada ±450 PLTN berlisensi yang beroperasi di 30 negara, dengan tambahan 48 unit sedang dalam konstruksi.
Saat ini, PLTN terbesar di dunia adalah TEPCO Kashiwazaki-Kariwa di Jepang dengan kapasitas 7.965 GW, sementara secara global PLTN menyumbang sekitar 10 persen dari total kebutuhan listrik dunia. Angka-angka ini menunjukkan bahwa dunia sudah lama menggunakan nuklir.
Bukan tanpa risiko, tetapi juga bukan tanpa pengalaman dan pembelajaran. Setiap kecelakaan, seperti Chernobyl (1986) dan Fukushima (2011), menjadi pelajaran berharga yang membuat standar keselamatan terus ditingkatkan dengan perbaikan desain reaktor dan penguatan sistem pengamanan teknologi nuklir kini sudah memasuki generasi keempat, dengan desain yang jauh lebih aman, lebih efisien, dan lebih fleksibel dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Keuntungan yang Sering Terabaikan
Energi nuklir adalah energi yang dihasilkan dari reaksi antar partikel di inti atom dan telah mulai dimanfaatkan oleh para ilmuwan sejak awal abad 19 dan memiliki sejumlah keuntungan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pertama, tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca selama operasi normal. Kedua, tidak mencemari udara seperti pembangkit batubara. Ketiga, limbah padat yang dihasilkan relatif sedikit. Keempat, biaya bahan bakar rendah. Kelima, ketersediaan bahan bakar seperti uranium dan plutonium masih melimpah. Walaupun, tantangan energi nuklir adalah risiko kecelakaan dan limbah nuklir.
Energi nuklir termasuk energi bersih dan juga memiliki kelebihan dibandingkan energi terbarukan seperti PLTA dan PLTS yang mana nuklir tidak tergantung pada cuaca atau waktu. Pembangkit listrik tenaga surya hanya beroperasi optimal pada siang hari, sementara pembangkit listrik tenaga angin hanya berproduksi saat angin bertiup.
Sementara nuklir bisa beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun. Inilah keunggulan komparatif yang membuat nuklir menjadi andalan banyak negara
maju seperti AS, Prancis, Jepang, China, Rusia, dan Korea Selatan.
Stigma yang Melekat Kuat di Indonesia
Sayangnya, di Indonesia diskusi soal nuklir masih terkendala stigma negatif yang kuat. Begitu kata nuklir disebut, yang terbayang adalah bom atom, radiasi mematikan, atau bencana pembangkit listrik.
Padahal teknologi nuklir sudah berkembang sangat pesat. Reaktor generasi keempat dirancang dengan prinsip keselamatan pasif. Artinya, bahkan tanpa intervensi manusia atau pasokan listrik dari luar, reaktor akan mati dengan sendirinya jika terjadi gangguan.
Negara-negara maju tidak berhenti menggunakan nuklir gara-gara Chernobyl atau Fukushima. Mereka justru belajar dari setiap insiden, lalu memperbaiki desain dan standar keselamatan. AS, Prancis, Jepang, China, Rusia, dan Korea Selatan masih terus mengoperasikan PLTN mereka. China dan Rusia bahkan terus membangun yang baru.
Yang perlu ditingkatkan di Indonesia adalah kemauan untuk membuka mata dan memulai diskusi yang tidak didasari ketakutan semata. Selama ini, setiap kali topik nuklir muncul, reaksinya selalu sama: ditolak mentah-mentah tanpa kajian mendalam. Padahal target net zero emission 2060 tidak ringan. Tanpa nuklir, target itu akan jauh lebih berat untuk dicapai.
Bukan Berarti Harus Bangun Besok
Bukan berarti Indonesia harus langsung membangun PLTN besok. Tapi setidaknya, mulailah diskusi yang serius. Lakukan kajian mendalam yang melibatkan semua pemangku kepentingan: pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. Lakukan sosialisasi publik yang jujur dan transparan tentang potensi sekaligus risiko nuklir. Karena ketakutan sering lahir dari ketidaktahuan.
Teknologi nuklir sudah terbukti dan dunia sudah menjalankannya puluhan tahun. Indonesia pun punya pengalaman dasar melalui tiga reaktor non-daya (Kartini, Triga, dan GA Siwabessy) yang sudah beroperasi untuk riset, kesehatan, pangan, dan agrikultur. Saatnya Indonesia melirik nuklir. Karena target energi bersih yang maksimum membutuhkan semua opsi yang tersedia. Dan nuklir adalah salah satu opsi andal yang sayang untuk dilewatkan.
(miq/miq)
Addsource on Google

5 hours ago
4

















































