Rusia-China Bersatu, Ini 3 Poin Pertemuan Baru Putin-Xi Jinping

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin bersiap melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada Selasa waktu setempat demi memperkuat aliansi strategis kedua negara. Kunjungan dua hari di Beijing ini dilakukan tepat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyelesaikan kunjungan dinasnya di negara tirai bambu tersebut.

Mengutip laporan dari CNBC International, Rusia kini berada dalam posisi yang sangat membutuhkan dukungan konkret dari Beijing di tengah isolasi ekonomi dari negara-negara Barat. Melalui pertemuan tingkat tinggi ini, Putin berharap mampu membawa pulang komitmen nyata dari Presiden China Xi Jinping.

Para analis ekonomi dan politik internasional menjabarkan terdapat tiga poin utama yang menjadi target buruan Rusia dalam lawatan diplomatik kali ini. Apa saja?

Hubungan Geopolitik

Kedatangan Putin yang hanya berselang beberapa hari setelah Trump menyelesaikan kunjungannya dinilai sarat akan pesan politis. Langkah ini dianggap sengaja diambil oleh Moskow untuk membuktikan kepada Washington bahwa pengaruh Rusia di Beijing tetap jauh lebih unggul dan tidak tergoyahkan.

"Putin kemungkinan mengirimkan sebuah pengingat kepada warga Amerika bahwa, ya, Anda dapat datang dan mengunjungi China sesuka Anda, tetapi Rusia lebih dekat, dan lebih ramah daripada Anda," kata Ed Price, peneliti senior non-residen di New York University.

Price menambahkan bahwa Putin juga akan memburu dukungan diplomatik penuh dari China terkait kelanjutan perang di Ukraina. Dukungan politik dari wilayah Timur ini menjadi sangat krusial bagi pertahanan geopolitik Moskow demi mengimbangi tekanan militer serta sanksi dari pakta pertahanan NATO di Eropa Timur.

"Selama Presiden Putin memiliki ambisi teritorial di wilayah Baratnya, yaitu Ukraina, dia harus memiliki kesuksesan diplomatik di wilayah Timurnya, yaitu China," jelas Price.

Sementara itu, Kepala Ekonom Deloitte China Sitao Xu menilai Moskow tengah mencari jaminan kepastian dari Beijing terkait hubungan bilateral mereka yang terbilang rumit, terutama setelah muncul rumor klaim sepihak mengenai konflik Ukraina. Di sisi lain, pihak Beijing diproyeksikan akan memanfaatkan momentum ini untuk meminta kejelasan mengenai arah akhir dari perang Rusia-Ukraina demi menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan mereka.

"Rusia adalah tetangga terbesar China, dan kami memiliki perbatasan yang panjang ini, jadi jika kita tidak perlu khawatir tentang keamanan di sepanjang sisi Barat, itu akan menjadi keaktifan yang sangat besar bagi kita," ujar Xu pada Senin.

Hubungan Energi

Sektor energi menjadi sorotan utama karena hubungan antara kedua negara kini dinilai para pengamat menjadi semakin asimetris dan timpang sejak perang Ukraina meletus. Akibat sanksi internasional yang bertubi-tubi, Rusia kehilangan pasar ekspor minyak dan gas utamanya di Eropa, sehingga kini mereka menjadi sangat bergantung pada India dan China sebagai pembeli utama energi mereka.

Target utama yang ingin dicapai oleh Putin dalam kunjungannya pekan ini adalah mendapatkan lampu hijau bagi megaproyek pipa gas Power of Siberia 2 yang melintasi Mongolia. Infrastruktur strategis ini digadang-gadang mampu melipatgandakan volume ekspor gas pipa Rusia ke China, meskipun Beijing sendiri dilaporkan tidak terlalu terburu-buru untuk menyetujuinya.

"Kesepakatan utama yang ingin dibahas Putin dengan Xi adalah, tentu saja, pipa gas," tutur Sergei Guriev, dekan London Business School kepada CNBC pada Selasa.

Guriev menambahkan bahwa China terus menunda pembahasan proyek ini karena mereka merasa telah memiliki ketahanan energi yang kuat melalui diversifikasi pasokan yang mumpuni. Di sisi lain, Rusia dinilai berada dalam posisi yang jauh lebih membutuhkan kesepakatan pipa gas ini secepatnya.

"China telah membangun cadangan energi yang substansial dan dapat menunggu hingga konflik Timur Tengah selesai," pungkas Guriev.

Hubungan Perdagangan

Putin memandang bahwa komunikasi intensif tingkat tinggi merupakan bagian integral dalam membuka potensi kerja sama ekonomi kedua negara yang dianggapnya tanpa batas. Berdasarkan laporan kantor berita Rusia, TASS, Moskow berniat memperluas kemitraan dagang mereka ke berbagai lini komoditas lainnya di luar sektor energi.

"Kunjungan timbal balik yang teratur dan pembicaraan tingkat tinggi Rusia-China adalah bagian penting dan integral dari upaya bersama kami untuk mempromosikan seluruh rentang hubungan antara kedua negara kita dan membuka potensi mereka yang benar-benar tanpa batas," kata Putin seperti dikutip dari laporan TASS pada Selasa.

Ketergantungan ekonomi Rusia terhadap industri manufaktur Negeri Tirai Bambu tercatat melonjak drastis pasca-terputusnya hubungan dagang dengan Uni Eropa. Berkat pengalihan arus perdagangan global tersebut, nilai total transaksi perdagangan antara Rusia dan China dilaporkan sukses tumbuh hingga dua kali lipat dalam empat tahun terakhir.

"Bagi Rusia, kunjungan ini sangat penting karena Rusia bergantung pada China dalam hal teknologi, barang konsumsi, dan barang manufaktur," tegas Guriev saat berbicara di acara "Europe Early Edition" di CNBC.

(tps/șef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |