RI Ngebut Bangun PLTS, Kekuatan China Sudah Bikin Geleng-Geleng

2 hours ago 5

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

28 August 2026 11:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia resmi memasuki perlombaan energi surya berskala raksasa. Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak atau 100 GWp pada 25 Agustus 2026.

Program tersebut diawali dengan peluncuran dan groundbreaking 14 PLTS di enam provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Total kapasitas tahap awal mencapai 5,3 GWp.

"Target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun," ujar Prabowo dalam peluncuran program di PLTS Site Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali pada Selasa (25/8/2026).

Pemerintah memperkirakan total investasi program tersebut mencapai sekitar US$73 miliar atau lebih dari Rp1.140 triliun. Pengembangan PLTS 100 GWp juga diklaim berpotensi menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan pekerjaan dan menghasilkan efisiensi subsidi listrik sekitar Rp73,9 triliun per tahun.

Namun, angka 100 GWp merupakan target pembangunan nasional, bukan kapasitas yang seluruhnya telah terpasang dan beroperasi.

Sebanyak 14 proyek tahap pertama berkapasitas 5,3 GWp baru setara 5,3% dari keseluruhan target.

Prabowo Resmi Luncurkan Program PLTS Kapasitas 100 GWPPrabowo Resmi Luncurkan Program PLTS Kapasitas 100 GWP Foto: CNBC Indonesia TV

Target 100 GW vs kapasitas PLTS Indonesia

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan kapasitas terpasang PLTS Indonesia mencapai 1.494,1 MW atau sekitar 1,49 GW pada akhir 2025.

Angka tersebut tercantum dalam Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Tahun 2025. Secara keseluruhan, kapasitas pembangkit energi baru terbarukan Indonesia pada akhir 2025 mencapai 15.630 MW.

Dengan demikian, target 100 GWp yang dicanangkan Prabowo mencapai hampir 67 kali kapasitas PLTS nasional pada akhir 2025.

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 98,51 GWp. Apabila target diselesaikan dalam tiga tahun, rata-rata pembangunan yang dibutuhkan mencapai sekitar 32,84 GWp per tahun.

Total kapasitas listrik EBT terpasangTotal kapasitas listrik EBT terpasang Foto: Kementerian ESDM

Sementara itu, tahap pertama yang terdiri atas 14 PLTS berkapasitas 5,3 GWp baru mewakili sekitar 5,3% dari keseluruhan target. Kapasitas tahap awal tersebut juga telah mencapai sekitar 3,5 kali kapasitas PLTS nasional yang tercatat pada akhir 2025.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah pasokan listrik. Pemerintah juga ingin membangun kemandirian energi hingga tingkat desa, menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel, mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, serta memperkuat industri panel surya dan baterai di dalam negeri.

Perusahaan pemilik portofolio PLTS di Indonesia

Sebelum program 100 GWp diluncurkan, pengembangan PLTS nasional telah melibatkan perusahaan BUMN dan swasta.

Berdasarkan kompilasi data perusahaan pemilik PLTS di Indonesia, PLN menjadi entitas dengan portofolio terbesar. Portofolio tersebut mencakup PLTS Terapung Cirata dan sejumlah proyek baru dalam pipeline.

Sejumlah perusahaan swasta juga mulai membangun dan mengakuisisi aset tenaga surya, mulai dari Indika Energy, TBS Energi Utama, Medco Energi Internasional, hingga Chandra Daya Investasi.

Tabel tersebut merupakan kompilasi portofolio yang mencampurkan aset eksisting dengan pipeline proyek. Karena itu, seluruh angkanya tidak bisa langsung dianggap sebagai kapasitas yang sudah beroperasi.

Infografik mencantumkan total kapasitas sekitar 1,33 GW. Namun, jika seluruh angka pada setiap baris dijumlahkan, hasilnya mencapai sekitar 1,346 GWp. Sementara itu, data resmi Kementerian ESDM mencatat kapasitas PLTS nasional sebesar 1,4941 GW pada akhir 2025.

Perbedaan tersebut dapat muncul akibat tanggal data, cakupan kepemilikan, proyek pipeline, dan aset nasional lain yang tidak tercantum dalam tabel perusahaan.

Target Indonesia lebih besar dari raksasa PLTS dunia

Besarnya target Indonesia semakin terlihat ketika dibandingkan dengan portofolio PLTS perusahaan energi terbesar dunia.

Perusahaan dengan kapasitas PLTS terbesar yang dapat diverifikasi melalui pengungkapan resmi adalah State Power Investment Corporation atau SPIC. BUMN energi asal China tersebut mengungkapkan kapasitas PLTS sebesar 83,65 GW pada akhir 2024.

Jika target Indonesia mencapai 100 GWp, skalanya akan lebih besar sekitar 16,35 GW atau hampir 20% dibandingkan kapasitas PLTS SPIC yang terakhir diungkapkan secara terpisah.

Meski demikian, perbandingan tersebut bersifat ilustratif. Program 100 GWp Indonesia merupakan target nasional yang akan tersebar di PLN, BUMN lain, koperasi, pemerintah daerah, dan investor swasta. Sementara itu, angka perusahaan global merupakan kapasitas yang berada di bawah kepemilikan atau pengendalian korporasi.

Berikut sepuluh perusahaan pemilik portofolio tenaga surya terbesar berdasarkan angka dalam laporan dan publikasi resmi yang dapat diverifikasi.

Angka dalam daftar tersebut mengikuti pengungkapan terakhir yang memberikan kapasitas secara eksplisit. Karena tidak seluruh perusahaan memublikasikan pemisahan teknologi pada tahun yang sama, tanggal datanya berkisar antara Desember 2024 hingga Desember 2025.

Mayoritas perusahaan China menggunakan kapasitas terkendali atau terkonsolidasi. NextEra Energy menggunakan kapasitas berdasarkan kepemilikan bersih, sedangkan China Resources Power menggunakan kapasitas yang dapat diatribusikan kepada perusahaan.

Sembilan dari sepuluh berasal dari China

Daftar tersebut menunjukkan kuatnya dominasi China dalam industri energi surya global. Sebanyak sembilan dari sepuluh perusahaan berasal dari China. NextEra Energy menjadi satu-satunya perusahaan non-China di dalam daftar.

Dominasi China ditopang oleh pembangunan kawasan energi surya berskala besar, akses pembiayaan, penguasaan rantai pasok panel surya, dan integrasi antara produsen teknologi dengan perusahaan pembangkit.

SPIC menduduki posisi pertama dengan kapasitas PLTS 83,65 GW. Di bawahnya terdapat CHN Energy dengan kategori "solar and other" sebesar 71 GW, China Huaneng Group 57,44 GW, dan Huadian New Energy 52,866 GW.

Empat kelompok tersebut menunjukkan bahwa kapasitas energi surya perusahaan-perusahaan China sudah berada pada skala puluhan gigawatt.

Sebaliknya, kapasitas PLTS Indonesia pada akhir 2025 baru sekitar 1,49 GW atau setara 1,49% dari target yang dicanangkan pemerintah.

Tantangan besar mengejar 100 GW

Target 100 GWp dapat mengubah posisi Indonesia dalam industri energi surya global. Namun, realisasinya membutuhkan percepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sektor ketenagalistrikan nasional.

Selain pendanaan, pemerintah harus memastikan kesiapan jaringan transmisi, fasilitas penyimpanan energi, pasokan panel dan baterai, pembebasan lahan, kepastian pembeli listrik, serta kejelasan pihak yang akan memiliki dan mengoperasikan setiap proyek.

Pemerintah juga harus membedakan proyek yang sudah mencapai commercial operation date, sedang dibangun, baru memperoleh pendanaan, atau masih berada dalam pipeline.

Jika seluruh hambatan tersebut dapat diatasi, program 100 GWp berpotensi membawa Indonesia dari negara dengan kapasitas PLTS sekitar 1,49 GW menjadi salah satu pusat pengembangan tenaga surya terbesar di dunia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |