Polisi Banting Setir Jadi Pengusaha ATM, Cuan Gede Rp 44 Miliar

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib berbeda dirasakan Paul Alex usai memutuskan keluar dari kepolisian San Francisco, Amerika Serikat (AS). Ia meninggalkan posisinya sebagai polisi berprestasi demi berdagang mesin ATM.

Alex yang pernah menjadi detektif di Satuan Tugas Narkotika memiliki gaji sebesar US$133.000 (Rp2,3 miliar) per tahun. Bahkan, dengan bonus dan tunjangan yang didapatkannya, ia bisa menerima hingga US$272.000 (Rp4,8 miliar).

Namun, Alex mengakui bahwa dirinya kehilangan keseimbangan hidup antara kehidupan profesional dan personal. Oleh karena itu, ia ingin mengubah nasibnya dan mulai berinvestasi dengan menggunakan gaji yang ia terima.

Awalnya, ia sempat berpikir untuk berinvestasi pada properti, namun modal yang besar membuatnya mengurungkan niat. Apalagi, bisnis properti mengonsumsi biaya yang besar untuk perawatan dan operasional.

Kemudian, ia memilih untuk berinvestasi pada mesin ATM. Ide itu didapatkannya dari rekan kerja yang tengah mencari tahu soal bisnis tersebut.

Alex mendalaminya dengan bergabung ke grup media sosial, menonton YouTube, hingga membaca berbagai bahan mengenai bisnis ATM.

Modal yang dikeluarkan juga tidak terlalu banyak, hanya kurang dari US$3.000. Risikonya pun relatif minim, saat ATM yang dipasang tidak menghasilkan di lokasi tertentu, mesin tersebut bisa dipindah ke tempat yang lebih strategis.

Pada 2018, ia mulai menjalankan bisnis ATM sebagai pekerjaan sampingan dan dengan cepat memberikan profit. Tiga tahun kemudian, ia memutuskan keluar dari kepolisian.

Dari Januari 2021 hingga April 2023, Alex berhasil meraup US$12 juta dengan profit bersih US$2,5 juta (Rp44 miliar) melalui perusahaan ATM Together milikinya.

Lokasi ATM yang Strategis

Sebelum membuka mesin ATM-nya sendiri, ia mencari lokasi yang strategis. Alex memutuskan mengambil cuti selama dua minggu dan mencari area yang ramai, seperti kawasan turis serta lokasi padat seperti klub malam, restoran, dan perkantoran.

Tak hanya itu, ia juga menawarkan kepada para pelaku bisnis untuk menempatkan mesin ATM tanpa biaya tambahan.

"Ketika pertama kali memulai bisnis ini, saya banyak mendapat penolakan. Sangat sulit bagi saya untuk bekerja [sebagai polisi] ketika harus berpikir keras soal bisnis sampingan ini," ia menceritakan.

Dari yang awalnya ingin membuka tiga titik ATM, ia kemudian berhasil mengamankan enam lokasi, yakni tiga toko minuman keras (liquor store), dua salon potong rambut, dan satu salon kecantikan di San Francisco.

Di ATM pertamanya, ia menaruh uang tunai sekitar US$2.000-US$3.000. Rata-rata pendapatannya mencapai US$2.000 per bulan, dan dalam sebulan ia menyadari bahwa lokasi yang paling banyak diandalkan adalah toko minuman keras.

Komisi penarikan uang di lokasi tersebut memberikan profit yang lebih besar, berkisar antara US$250 hingga US$500 per bulan per mesin ATM, sementara di lokasi lainnya hanya berkisar US$25 hingga US$100.

Dari masukan yang diterimanya dari seorang mentor di Facebook, ia kemudian memindahkan tiga mesin ATM dari salon kecantikan dan salon potong rambut ke supermarket serta toko minuman keras lainnya. Keputusannya terbukti benar karena profit bulanan untuk satu ATM bisa mencapai US$600.

Dalam waktu setengah tahun, mesin-mesin ATM miliknya kian ramai digunakan. Keuntungan per unitnya bahkan mencapai US$3.000 per bulan, yang berarti ia berhasil balik modal dalam waktu enam bulan saja.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |