RI Mulai Impor BBM dari AS Dalam Hitungan 90 Hari

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan akan mulai merealisasikan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Amerika Serikat (AS) dalam waktu 90 hari ke depan. Hal ini menyusul kesepakatan pembelian komoditas energi senilai US$ 15 miliar antara kedua negara.

Semula, Bahlil mengatakan bahwa impor LPG Indonesia saat ini tergolong besar yakni sekitar tujuh juta ton per tahun. Selama ini, sebagian pasokan tersebut telah berasal dari Amerika Serikat, namun volumenya akan ditingkatkan, termasuk BBM.

"Ini dalam konteks BBM dan dalam catatan kami, begitu kami mendapat arahan dari Bapak Presiden Prabowo, begitu 90 hari ke depan sudah selesai, maka langsung kita mulai tahapan eksekusi. Jadi ini langsung bisa berjalan supaya tidak ada suatu persepsi yang berbeda dari teman-teman yang ada di sana," kata Bahlil dalam Konferensi Pers secara virtual dikutip Senin (23/2/2026).

Di sisi lain, ia menegaskan alokasi dana sebesar US$ 15 miliar untuk pembelian BBM dari Amerika Serikat bukan berarti pemerintah akan menambah volume impor energi secara keseluruhan. Langkah tersebut hanya merupakan pengalihan sebagian sumber impor dari negara lain ke Amerika Serikat.

Ia menyebut secara keseluruhan neraca komoditas pembelian BBM Indonesia dari luar negeri tetap sama dan tidak mengalami peningkatan. Pemerintah, kata dia hanya melakukan penggeseran sumber pasokan dari negara lain ke Amerika Serikat.

"Bapak Ibu semua, US$ 15 miliar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume impor. Namun kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara. Di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun di beberapa negara di Afrika," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan dokumen Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), dari perjanjian impor energi US$ 15 miliar tersebut, terbesar berasal dari komoditas bensin, yakni mencapai US$ 7 miliar. Sementara impor minyak mentah US$ 4,5 miliar, dan impor LPG "hanya" US$ 3,5 miliar.

Perjanjian terkait pembelian atau impor komoditas energi dari AS ini terdapat pada Annex IV, khususnya bagian barang industri. Pada poin ke-2 perihal barang industri itu diatur bahwa Indonesia harus mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk mengimpor komoditas energi dari AS senilai US$ 15 miliar, terdiri dari:

a. Meningkatkan impor batu bara metalurgi AS untuk mendukung pembuatan baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi, dan mengurangi ketergantungan pada impor dari pelaku manipulasi pasar;

b. Meningkatkan impor teknologi batu bara canggih AS dan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, dan komersialisasi teknologi tersebut, termasuk dengan memanfaatkan semua mekanisme pendanaan yang tersedia untuk mendukung kemajuan teknologi batu bara, termasuk menggunakan batu bara dan produk sampingan batu bara untuk menghasilkan bahan bangunan, bahan baterai, serat karbon, grafit sintetis, dan bahan cetak, serta untuk bahan bakar pembangkit listrik dan proses industri lainnya;

c. Mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$ 3,5 miliar.

d. Mendukung dan memfasilitasi pembelian minyak mentah senilai US$ 4,5 miliar.

e. Mendukung dan memfasilitasi pembelian produk bensin senilai US$ 7 miliar.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |