- Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, bursa saham dan rupiah melemah
- Bursa Wall Street ditutup beragam
- Rapat The Fed, hasil rapat KSSK hingga perkembangan perang menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada hari kedua perdagangan pekan ini.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di level 6.130,59, turun 55,19 poin atau -0,89% pada Selasa (28/7/2026). Indeks melemah signifikan pada sesi 2 Selasa (28/6/2026). Pada sesi 1, IHSG sempat bertahan di tengah kepanikan bursa Asia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sebanyak 360 saham turun, 265 naik, dan 172 tidak bergerak. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,07 triliun.
Sepanjang perdagangan kemarin IHSG bergerak pada rentang 6.130,59-6.199,44. Artinya IHSG sempat menguat 0,2% sebelum akhirnya kehilangan tenaga. Mengutip Refinitiv, hanya satu sektor yang menguat dengan kenaikan sangat tipis, yakni konsumer primer (-0,09%). Di sisi lain properti menjadi sektor yang menjadi pemberat IHSG sepanjang hari. Pada akhir perdagangan properti turun 4,49%.
Adapun tekanan terhadap IHSG seiring dengan nilai tukar rupiah yang tak kuasa menahan tekanan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda kembali ditutup melemah terhadap greenback pada akhir perdagangan Selasa (28/07/2026). Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,31% ke posisi Rp18.055/US$. Pelemahan tersebut membuat rupiah berakhir di zona merah selama empat hari perdagangan beruntun.
Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,491.
Rupiah telah mengawali perdagangan Selasa(28/07/2026) dengan pelemahan sebesar 0,33% ke level Rp18.060/US$. Tekanan sempat membesar hingga membawa rupiah menyentuh Rp18.095/US$, yang menjadi posisi terlemahnya sepanjang perdagangan kemarin.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih stagnan di 7,374% selama empat hari beruntun.
Addsource on Google

1 week ago
8

















































