Perbanas Ungkap Masalah Struktural Penyebab Kredit UMKM Lesu

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkapkan bahwa laju pertumbuhan kredit UMKM lesu terjadi karena mayoritas pelaku UMKM merasa tidak perlu pinjaman.

Perbanas mencatat bahwa pertumbuhan kredit UMKM menunjukkan pelemahan sejak akhir 2022 dan mulai masuk ke zona negatif pada akhir 2025. Hingga Februari 2026, kredit UMKM masih terkontraksi sekitar -0,47% secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Pelemahan ini berbeda dari tren kredit perbankan secara umum, terutama kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi yang masih tumbuh positif. Dengan demikian, penurunan kredit UMKM mengindikasikan ada persoalan mendasar pada segmen UMKM.

"Menariknya, penelitian kami menemukan bahwa tantangan utama saat ini bukan terletak pada terbatasnya pasokan kredit dan perbankan, sebaliknya mayoritas pelaku UMKM belum mengajukan kredit karena mereka merasa belum membutuhkan fund biaya, dan masih mengandalkan modal sendiri," Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi saat Press Conference Hasil Kajian UMKM di Four Seasons Hotel, Kamis (18/6/2026).

Padahal, tingkat persetujuan kredit segmen UMKM di bank relatif tinggi. Menurut Hery, hal ini menunjukkan bahwa ada masalah struktural yang menjadi perhatian bersama.

Ketua Bidang Riset & Kajian Ekonomi & Perbankan Perbanas, Aviliani melanjutkan, pelemahan kredit UMKM saat ini lebih didorong oleh sisi permintaan kredit atau bersifat demand-driven. Mayoritas (hampir 90%) UMKM formal dan informal tidak mengajukan kredit karena merasa belum membutuhkan pinjaman sebagai alasan utamanya. Pembiayaan usaha mereka hampir 90% berasal dari dana pribadi (self-funded).

Hal ini menunjukkan permasalahan utama rendahnya akses pembiayaan UMKM terletak dari sisi permintaan (demand side) kredit itu sendiri. Di sisi lain, penelitian ini menunjukkan sisi penawaran (supply side) pembiayaan UMKM sudah sangat suportif. Hal ini tercermin dari survei yang menemukan bahwa ketika UMKM formal mengajukan kredit, tingkat persetujuannya sangat tinggi, yaitu sekitar 94,3%.

"Nah kita kan pengennya nggak begini, secara bank sebenarnya kita pengen mendanai," ujar Aviliani.

Selain itu, Perbanas menemukan bahwa alasan lain kredit UMKM terus menurun adalah guncangan dari sisi biaya dan permintaan. Penurunan kredit UMKM diindikasikan oleh kombinasi naiknya biaya, melemahnya permintaan/penjualan, tertekannya margin dan semakin selektifnya bank terhadap risiko.

Sebagai bentuk dukungan untuk menguatkan sektor UMKM, Perbanas meluncurkan UMKM Center pada Kamis (18/6/2026). Hery mengatakan pihaknya berharap UMKM Center dapat menjadi jembatan yang menghubungi pelaku UMKM dengan ekosistem yang mereka butuhkan untuk berkembang secara berkelanjutan.

"Kami percaya bahwa UMKM yang semakin produktif, kemudian formal dan bankable akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan," ucap Hery.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |