Perang Saudara Meletus di Arab, Trump Tak Berani Cawe-Cawe

7 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kian membara dan mengancam pasokan energi global. Milisi Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mendadak melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas minyak milik raksasa energi Arab Saudi, Aramco, di sepanjang pesisir Laut Merah.

Aksi nekat ini terjadi di tengah langkah mengejutkan Amerika Serikat (AS) yang memilih untuk 'menahan diri' dari melancarkan serangan udara ke wilayah Iran untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir.

Berdasarkan laporan Reuters, serangan Houthi menghantam fasilitas Aramco di Jizan dan Yanbu. Asap hitam pekat terlihat membubung tinggi dari arah kilang minyak Jizan, yakni fasilitas vital berkapasitas 400.000 barel per hari. Sementara di Yanbu, hub ekspor minyak utama Saudi, dua rudal balistik Houthi berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Patriot.

Serangan ini berpotensi membuka front perang baru di jalur pelayaran vital dunia. Pasalnya, Yanbu dan Jizan merupakan pintu keluar utama ekspor minyak Saudi untuk menghindari Selat Hormuz yang saat ini diblokade oleh Iran.

Harga Minyak Mentah Lewati US$100/Barel

Eskalasi konflik ini langsung mengocok pasar komoditas global. Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, secara terbuka mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan mengancam akan menargetkan seluruh instalasi minyak milik kerajaan Teluk tersebut.

Ancaman itu menyulut kepanikan pasar. Harga minyak mentah jenis Brent meroket hingga menembus angka US$100 per barel, mencatat rekor tertinggi baru yang memicu kekhawatiran gelombang inflasi global.

"Kami menerima informasi mengenai potensi kerusakan pada fasilitas penyimpanan bahan bakar di Jizan," ungkap salah satu sumber pedagang energi di Asia. Pihak Saudi Aramco sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.

AS 'Tahan Diri', Trump Buka Opsi Diplomasi?

Di sisi lain, publik dibuat bertanya-tanya usai Washington secara mendadak menghentikan rangkaian serangan udara yang telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut ke Iran. Serangan AS sebelumnya dilancarkan sebagai balasan atas aksi Teheran yang mengganggu kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Kondisi ini membuat Teheran menikmati malam yang relatif tenang tanpa gempuran jet tempur AS.

"Tampaknya Iran yang kita cintai telah melalui malam yang tenang tadi," tulis juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, melalui akun X miliknya.

Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan adanya celah negosiasi di balik keputusan penundaan serangan tersebut, meski sebelumnya ia sempat mengancam akan menghancurkan kilang minyak di Pulau Kharg dan situs nuklir Iran.

"Kami sedang berbicara dengan mereka. Menurut saya, mereka bersikap serius, namun bukan berarti kesepakatan pasti akan tercapai," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Perang Saudara Yaman Kembali Membara

Meski Washington menahan diri terhadap Teheran, situasi geopolitik di Yaman justru kian membara. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi militer Arab Saudi merespons serangan Houthi dengan menggempur basis-basis militer, gudang senjata, serta fasilitas peluncuran drone Houthi di Marib, al-Jawf, dan pelabuhan Hodeidah.

Perang saudara di Yaman yang sempat terhenti lewat gencatan senjata sejak 2022 kini resmi pecah kembali. Kedua belah pihak dilaporkan mulai memobilisasi pasukan skala besar di sepanjang garis depan pertempuran, menandakan bahaya perang berkepanjangan yang siap mengancam stabilitas pasokan energi dunia.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |